Jumat, 11 Oktober 2013

Everybody's Changing


Di dunia ini tak ada yang pasti kecuali perubahan.

Aku lupa mencomot kalimat itu dari mana dan dari siapa, tetapi yang jelas kalimat itu ada di buku catatanku. Aku memang suka mencatat quote-quote dari banyak orang. Bukan apa-apa, cuma buat gaya-gayaan saja, siapa tahu suatu saat buku catatanku tertinggal entah di mana, kemudian ditemukan seorang wanita cantik, dia pasti akan mengira pemilik buku itu (baca: aku) adalah seorang yang sophisticated.
Hahaha.
Ehm.
Terlepas dari niatku yang murahan itu, apa yang kucatat terkadang berguna juga. Seperti kali ini, ketika menemukan kalimat yang kukutip di atas itu, serta merta aku berpikir panjang.
Perubahan.
Ya, sejauh mana diriku telah berubah?
Baik,
Untuk tahu sejauh mana diriku telah berubah, tentu aku perlu berkaca pada masa lalu. Masa lalu adalah cermin paling jujur, meski kejujuran itu tidak selalu berujung menyenangkan.
Bagi sebagian orang, masa lalu adalah episode kejayaan yang selalu menawarkan kebanggaan untuk diceritakan. Sedang bagi sebagian lain, masa lalu adalah aib yang lebih baik di-peti-es-kan. Namun, apapun masa lalu itu, ia adalah babak drama yang telah dipentaskan, ia tidak seperti tulisan di Microsoft Word yang bisa di-undo.
Aku tidak tahu apakah yang akan kuceritakan di sini adalah kebanggan atau justru aib. Aku tidak begitu peduli. Aku sudah cukup puas diberi kemampuan akal untuk melampiaskan unek-unek yang ada di pikiran.
Kubuka lagi tulisan-tulisanku terdahulu.
Aku termasuk orang yang percaya bahwa tulisan dapat mencerminkan karakter seseorang. Maka dari itu, aku buka lagi catatan lamaku, aku baca dengan saksama, dan aku simpulkan sendiri karakterku. Hasilnya: menggelikan.
Ya, menggelikan.
Perasaan yang keluar kira-kira sama dengan perasaan ketika aku membuka album foto kecilku dan mendapati diriku sewaktu kanak-kanak adalah bocah yang kurus item dekil, mata cekung, gigi gigis, dan ingusan. Meski keadaanku saat ini dengan usia 21 tahun tidak jauh berbeda dengan masa kanak-kanak itu, tapi tetap saja rasanya menggelikan melihat masa lalu diri sendiri dengan segala kepolosannya.
Tentang tulisan, berikut aku kutip satu paragraf yang aku tulis kira-kira tiga tahun lalu, sewaktu masih menjadi mahasiswa baru.

Semalem, aku baru aja ketemu sama penulis idolaku. Ya, siapa lagi kalo bukan Scarlett Johansen (LHO?). Oke, bukan dia lah. Semalem aku ketemu sama Raditya Dika. Tapi bukan ketemuan model orang-orang kencan sambil dinner gitu. Bukan. Aku ikutan sebuah acara workshop yang ngedatengin si Raditya Dika. Tapi ada yang beda dari keikutsertaanku dalam workshop tersebut. Beda gimana? Yak langsung aja.. bekicot..

Siapa yang tidak geli membaca tulisan semacam itu?
Entah apa yang ada di pikiranku dulu sewaktu menulis itu. Rasanya aku tidak mau mengakui bahwa itu adalah tulisanku. Tapi, itulah masa lalu, itulah yang benar-benar terjadi, dan itulah yang jelas tidak bisa aku ingkari. Seberapapun aku mencoba mengelak, aku tetap kalah telak, karena masa lalu adalah bayangan yang akan selalu menempel sampai kelak. #ngomongopoooo.
Lalu, bagaimana aku harus menyikapi masa lalu?
Di sini aku mulai berpikir.
Mungkin yang membuatku merasa geli membaca tulisan lawasku sendiri adalah karena saat ini aku merasa telah berubah dari aku yang dulu. Jika diingat-ingat lagi, dulu aku termasuk penggemar berat tulisan-tulisan Raditya Dika. Boleh dikatakan secara berlebihan, aku adalah pasukan berani matinya Dika. Maka dari itu, tulisan yang kubuat pun kelihatan sangat terpengaruh dari apa yang kubaca.
Kini, seiring usiaku yang bertambah, kekagumanku akan tulisan-tulisan Raditya Dika seolah menyusut, meski tidak sepenuhnya hilang. Aku mulai menemukan idola-idola baru, dan sadar tidak sadar mulai mengikuti gaya dari idola itu. Aku membaca karya Dan Brown, jadi tertarik menulis tentang petualangan yang menegangkan dan super-kaya akan informasi. Membaca karya ES Ito, jadi sensitif terhadap isu-isu sosial-politik. Membaca Ahmad Fuadi, menjadi terinspirasi menulis sesuatu yang inspiratif. Membaca Seno Gumira Ajidarma, membuatku kehilangan selera terhadap novel-novel teenlit. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Semakin aku menemukan kekaguman pada sosok-sosok baru, justru semakin bingung. Ke arah mana aku akan menjadi?
Seorang kawan di kampus yang hobi menulis dan sudah beberapa kali memenangkan lomba menulis bernama Habsari, pernah mengobrol tentang hal ini dan dia berkata, “Kayak gitu emang wajar, Mi. Awalnya kita memang akan terpengaruh idola kita. Tetapi semakin lama dan semakin banyak bacaan kita, nantinya kita akan menemukan bentuk orisinilasitas kita sendiri.”
“Tapi ‘nantinya’ itu kapan?” Tanyaku.
“Sampai kamu mati,” jawabnya.
Aku cuma menanggapi dengan geleng-geleng, tapi dalam hati mengiyakan.
Bisa jadi yang dikatakan kawanku itu benar. Dan bisa jadi saat ini aku tengah menjalani proses transformasi untuk menemukan “bentuk” paling tepat bagi diriku sendiri. Apakah ini akan menjadi proses selamanya? Siapa yang tahu.
Aku jadi berpikir kembali. Dulu, untuk menulis, aku tak terlalu banyak berpikir. Aku hanya menuangkan apa yang ada di kepala. Aku tidak peduli bahasa yang digunakan, ejaan yang benar, atau apapun. Hanya menuangkan, tak perduli takaran. Seperti anak kecil yang belajar menuangkan air ke dalam gelas. Maka, ketika kini kutemukan tulisanku dulu yang panjang lebar tumpah kemana-mana, aku menjadi tidak heran.
Sekarang, untuk menulis saja rasanya banyak sekali pertimbangan. Apakah yang kutulis ini salah apakah benar. Apakah informasi yang kusampaikan akurat atau meleset. Apakah kalimatku sudah efektif ataukah terlalu bertele-tele. Apakah kosakata yang kupakai sudah sesuai ejaan yang tepat atau belum. Apakah tulisanku akan dibaca orang lain atau tidak, dan kalau dibaca kira-kira akan seperti apa tanggapan mereka. Dan, pertanyaan yang paling mengganggu: untuk apa aku menulis?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu selalu berkelindan setiap kali aku hendak menulis. Aku seperti menjadi peragu. Pencemas. Penakut. Ujung-ujungnya aku memilih lebih berhati-hati. Atau malah terlalu berhati-hati hingga untuk sekadar melangkah saja perlu berpikir panjang. Sulit untuk menilai apakah itu baik atau tidak. Di satu sisi, kehatian-hatian membuatku terhindar dari kemungkinan kesalahan. Namun di sisi yang lain, aku menjadi kurang produktif.
Inilah yang membuatku lamaaaaa sekali tidak memposting catatan di blog seperti ini. Postingan terakhir sebelum ini adalah satu tahun lalu.
Hmmm....
Perubahan.
Perubahan.
Dan semuanya, semua orang, berubah.
Sepenggal lirik lagu dari Keane melintas...

So little time
Try to understand that I’m
Try to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But, everybody’s changing and I don’t feel the same

1 komentar:

  1. Woeehhh.... kok hampir sama ya, Mas Fahmi?

    Jika tulisa tentang pertemuan dengan Radit dibilang memalukan, mendadak saya merasa lebih hina. Lalu apa tulisanku?? -_-


    "Semakin aku menemukan kekaguman pada sosok-sosok baru, justru semakin bingung. Ke arah mana aku akan menjadi?"

    BalasHapus