Jumat, 15 Juni 2012

Rumah Hantu #1


Saya termasuk tipe cowok yang takut hantu, karena itu saya sering menjadi bahan ejekan kawan-kawan saya. Saya dikatakan penakut, ‘cemen’, tidak gentle, banci. Padahal, emang iya (lho?).

Seperti yang terjadi beberapa malam lalu, saya diledek habis-habisan ketika menolak ajakan beberapa kawan untuk pergi wisata “rumah hantu”. Rumah hantu yang dimaksud ialah rumah hantu ciptaan manusia yang dibuat untuk kepentingan komersial. Bukan rumah hantu dalam arti senyatanya. Namun, sekalipun saya tahu pasti rumah hantu (dan hantunya) itu buatan manusia, bagi saya tetap saja menyeramkan.

“Kamu gak berani???” seorang kawan perempuan bernama Febri bertanya dengan ekspresi sumpah-lo? “Ih, cowok kok takut hantu. Kagak gentle!”

“Fahmi meragukan cowoknya.” kawan lain bernama Chicha menimpali.

“Jangan-jangan sebenarnya kamu cewek ya, Mi?” Beta, kawan yang juga sedang bergabung tak mau ketinggalan.

Mendapat cemoohan dari lawan jenis seperti itu, jelas saya tidak terima. Ke-cowok-an saya dilecehkan! Saya langsung pasang sikap hendak menurunkan ritsleting celana, lalu bilang “MAU LIHAT BUKTI AKU COWOK?!”

“Makasih, Mi,” Chicha menjawab enteng, “lagi nggak pengin muntah.”

Saya diam tak menanggapi, tapi dalam hati mengumpat: Setan!

***

Malam itu, saya bersama empat kawan saya: Febri, Chicha, Beta, dan satu lagi Lisna a.k.a Boru tengah menikmati jagung bakar di depan GOR UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) ketika Febri mengusulkan wisata “rumah hantu”, dan saya menolaknya (yang kemudian menjadi bahan olok-olokan). Saya menolak dengan alasan yang bagi saya cukup logis: NGGAK BERANI. Namun ternyata alasan itu tidak cukup logis bagi kawan-kawan saya yang notabene berbeda jenis kelamin dengan saya. Mereka mengintimidasi saya untuk ikut.

“Mi, kalau kamu masih mau kita anggap cowok, kamu harus ikut.” kata Febri dengan nada (+muka) menantang.

Tantangan Febri membuat saya panas. Memang, perut saya tidak six-pack dan kaki saya tidak berbulu, tetapi jika sampai ada wanita meremehkan ke-cowok-an saya, ini adalah penodaan gender. PENODAAN!

Akhirnya, saya bilang ke mereka, “Oke, aku ikut!”

Dan tepuk tangan pun bergemuruh (bohong).

Lima belas menit dari tempat makan jagung bakar, kami tiba di “Rumah Hantu” yang berlokasi di daerah Babarsari, Seturan, Yogyakarta. Yang menjadi identitas ke-hantu-an dari rumah hantu tersebut ialah di bagian depan terdapat papan besar bergambar kuntilanak disertai tulisan-tulisan bermotif Chiller (tulisannya apa saya lupa). Juga pagarnya yang total hitam, gelap. Ya, hitam dan kegelapan selalu identik dengan setan.

Dan, yang menjadi penanda komersial dari rumah hantu itu adalah tepat di “teras” berdiri sebuah stan berketerangan “Loket Tiket”.

Ketika baru saja sampai dan memarkir kendaraan persis di samping rumah hantu itu, kami disambut jeritan sangat keras yang berasal dari dalam rumah hantu. Jeritan itu bervokal laki-laki, begitu keras, begitu membahana. Dan sangat jelas merupakan jenis jeritan orang sedang ketakutan.

“WWGHHUUAAAA... WHUAAAAA... WGHHUUAAAA!!!” begitulah suara jeritan yang terdengar. Jeritan itu terdengar tidak hanya satu kali, tapi berkali-kali.

“Itu suara cowok, Feb.” saya langsung memasang tampang cemas.

“Iya, gila. Cowok aja sampai jerit gitu.” tanggapan Febri membuat saya semakin horor.

Mampus.

Kami berlima saling bertukar pandang dalam hening. Saya artikan ini sebagai situasi saling lempar pertanyaan batin ‘Gimana? Mau lanjut?

Tiba-tiba terdengar celetukan, “Kalau nggak berani mending gak usah masuk.”

Kami celingukan mencari asal suara itu. Ternyata, itu mas-mas tukang parkir. Mungkin, dia menangkap gelagat ketakutan kami.

Saya bertanya kepadanya, “Emang serem banget, Mas?”

“Banget," Masnya berkata mantap, "soalnya di dalam situ ada hantu yang asli.”

“Serius, Mas??”

Tenanan, Mas, aku ra ngapusi (terjemah: beneran, kakak, saya tidak bohong).” Si Mas-mas tukang parkir lebih terkesan menakut-nakuti daripada memberi informasi. “Nanti kalau Mas masuk, terus ketemu hantu yang nakut-nakutin, itu hantu palsu. Tapi kalau Mas ketemu hantu yang diem aja, itu hantu asli.”

Ada hantu asli... mampus kuadrat.

“Tuh, ada setan asli. Ayok lah kita balik aja.” saya mencoba menularkan ketakutan saya ke kawan-kawan agar mereka membatalkan niat untuk masuk ke rumah hantu.

“Aduh, Mi,” sahut Febri, “nanggung banget kita sudah sampai sini masak yah mau balik lagi. Ayok lah lanjut!”

“Iya, rugi banget kalau harus balik lagi.” Si Boru yang dari tadi diam angkat bicara.

Kami berembug sesaat. Kemudian, sebagai pertimbangan, kami memutuskan menemui pengunjung yang sudah masuk ke dalam. Kami ingin melihat bagaimana kondisi, reaksi, dan ekspresi orang-orang yang sudah memasuki ‘kediaman’ para hantu itu.

Di rumah hantu itu hanya terdapat dua pintu: pintu masuk dan pintu keluar. Di pintu masuk terlihat antrean cukup panjang dari pengunjung yang hendak masuk. Sedangkan di pintu keluar, terlihat setiap beberapa detik, empat sampai lima orang keluar dengan muka memerah, keringetan, ngos-ngosan, berjalan terseok-seok, tetapi tertawa-tawa. Semua yang keluar pasti tertawa-tawa.

“Mereka hepi-hepi aja itu.” Beta berkomentar.

Saya terheran-heran. Apa yang mereka tertawakan?

Penasaran, kami ‘mewawancarai’ salah seorang pengunjung laki-laki yang baru saja keluar. Sambil tertawa dan ngos-ngosan si pengunjung ini bilang, “Gak menakutkan. Biasa saja. Cuma panas, sama pengap di dalem.”

Masih sambil mengatur napas, si pengunjung ini melanjutkan, “Ini aku malah sempat foto sama pocongnya. Sebenarnya sih gak boleh, foto-foto di dalam, tapi aku nekat aja.”

Dia lalu memamerkan fotonya berpose bersama pocong.

Pocong itu berwajah putih pucat dengan bagian sekitar mata berwarna hitam sehingga membuatnya terkesan melotot, dan dari matanya mengalir air mata darah. Di mulutnya terdapat bercak-bercak darah seperti habis makan orang. Yang aneh, ekspresi wajahnya datar sedatar-datarnya.

“Pocongnya unyu,” ujar si pengunjung.

“Oh iya.” saya menanggapi sekenanya (dalam hati: UNYU? EMANGNYA AFIKA??? INI SEREM, MONYET!!).

“Iya, unyu. Pocongnya ini diem aja sih.” lanjut si pengunjung.

“Hah??” saya tercengang (dalam hati: ITU SETAN ASLI!!!).

Saya pasti bakal menjerit histeris jika bertemu pocong ini.

Kami berlima berembug kembali. Febri dan Boru malah semakin penasaran untuk masuk. Chicha dan Beta yang awalnya bersemangat mendadak loyo (terutama setelah mendengar jeritan tadi), tetapi masih penasaran untuk masuk. Sementara saya, saya paling bernafsu untuk kembali pulang. Namun, apalah daya golongan minoritas. Saya yang tak memiliki mitra siapa-siapa ini, harus mengikuti kemauan golongan mayoritas: masuk ke rumah hantu.

Tiket pun dibeli. Ini berarti, saya wajib menyiapkan pita suara se-fit mungkin agar bisa menjerit sekencang-kencangnya. Dan, saya baru sadar. Suara saya termasuk kategori ‘cempreng’ level parah. Kalaupun saya menjerit, suara yang keluar pasti lebih seperti jeritan remaja putri menonton konser Suju.

“Mi, nanti kamu depan ya?!” Febri memberi instruksi. Dia lalu menjelaskan bahwa rumah hantu itu dalamnya berbentuk lorong sempit yang hanya bisa dilalui satu orang. Karena itu, pengunjung yang hendak masuk harus dibagi ke dalam suatu rombongan. Per-rombongan maksimal terdiri atas lima orang. Lima orang tersebut harus berjalan berurutan dari depan ke belakang. Jadi, kami berlima akan berjalan beriringan ibarat rangkaian gerbong kereta api. Untuk kasus kami: ibarat gerbong kereta api ekonomi peninggalan Belanda, lebih tepatnya.

Sekali lagi, minoritas (cowok sendiri) harus mengalah, dan saya pun menjadi gerbong paling depan.

Kami mengantre di depan pintu masuk. Perjalanan yang mendebarkan akan segera dimulai.

Di sini, saya bingung mempersiapkan reaksi ketakutan seperti apa yang pantas saya ekspresikan. Apakah saya harus menjerit selepas-lepasnya? Atau menahan jerit agar terlihat elegan? Hal ini menjadi penting saya pikirkan karena ini menyangkut harga diri saya sebagai laki-laki di mata perempuan. Walaupun, saya sadar betul sedari awal saya sudah tidak punya harga diri di mata kawan-kawan saya ini. Tetapi, posisi sebagai lelaki satu-satunya menuntut saya untuk selalu tampil paling berani dalam situasi apapun.

Mampukah saya melakukannya?

Tunggu postingan selanjutnya...