Rabu, 18 Mei 2011

Apresiasi Sastra dan (Bos) Ratna

Huft, akhirnya, acara ini berakhir SUKSES.
Yak, sodara-sodara, aku dan temen-temen seangkatan di jurusan SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA INDONESIA ALAMAK CIHUI, telah dengan sukses menyelenggarakan sebuah acara yang kita beri nama Apresiasi Sastra. Acara ini adalah agenda tahunan buat mahasiswa angkatan paling baru di jurusan Sasindo (nama panggilan Sastra Indonesia). Dan tahun ini angkatan yang paling baru adalah angkatanku. Jadilah ini acara untuk temen-temen seangkatanku.
Inti dari acara Apresiasi Sastra (selanjutnya kita sebut saja AS) ini adalah lomba. Yang terdiri atas 3 lomba: 1. Lomba membaca puisi, 2. Lomba mading, dan 3. Lomba cerpen. Semua lomba ditujukan untuk pelajar SMP dan SMA se-DIY. Kepanitiaan AS meliputi semua mahasiswa angkatanku, Sasindo 2010. Dalam kepanitiaan ini, aku masuk ke Divisi Lomba. Divisi-divisi yang lain: ada divisi acara, divisi humas, divisi publikasi, divisi danus, divisi perkap, divisi dokumentasi, divisi konsumsi, divisi lomba, dan divisi dangdut (ITU DIVIDI!). Masing-masing divisi dipimpin satu koordinator. Untuk divisi yang aku masuki (divisi lomba) dipimpin sama temenku, Ratna. Dia anak Bali. Tapi jangan pikir dia cantik kayak cewek-cewek Bali yang biasa gentayangan dalam FTV-FTV di SCTV. Kalo dalam FTV biasanya cewek-cewek Bali diperankan aktris cantik semisal Bunga Zainal atau Bunga Citra Lestari, sedangkan Ratna lebih mirip Bunga Bangke. Ratna memiliki satu kelebihan yang tidak dimiliki orang lain di dunia ini. Kelebihan yang menjurus berlebih, atau yang biasa kita sebut, LEBAY. Sumpah, dia lebay banget. Dia adalah: SANG BUNGABANGKEYANGAMATSANGATLEBAYSEKALIBANGET. Tapi meski begitu, di dalam kepanitiaan AS ini dia adalah Bosku. Dan aku mesti nurut sama dia.
***
Tugas pertama yang diberikan (bos) Ratna ke aku, aku diajak ikut menyeleksi cerpen-cerpen peserta. Sebenernya ini bukan tugas pertama sih, sebelumnya aku diperintahkan mencari juri-juri untuk ketiga lomba tersebut. Hasilnya: gagal. Aku dengan sukses tidak mendapatkan seorang dosen atau senior untuk dijadiin juri. Setelah tugas-tugas sebelumnya gagal aku laksanakan, Ratna masih sudi memintaku untuk membantunya. Sabtu, 7 Mei 2011, siang itu jam 11, Ratna sms aku:
“Mi, kamu ke asramaku ya! Bantu milihin cerpen”
“siapp boss.. bentar lagi aku ke tempatmu”, balesku yang langsung siap-siap berangkat. Aku orangnya emang selalu cepat tanggap.
“ntar aja mi, jam 2an aja”
Gembel. Aku terlalu bersemangat.
Sorenya, aku sudah berada di depan gerbang asrama Ratnaningsih UGM, asramanya Ratna (setelah sempet nyasar dulu sampai Irlandia, ya, aku sempet nyasar). Di depan gerbang aku sms dia:
“aku udah di depan, kamu keluar!”
Beberapa detik kemudian Ratna keluar dari pintu gedung asrama. Jarak antara pintu gedung asrama dengan pintu gerbangnya cukup jauh, sekitar 10 meter. Dari jarak tersebut, dia tereak-tereak manggil aku (namanya juga lebay, hobinya tereak-tereak),
“HEEEYYYY... FAHMI!!”
Alhasil, semua orang yang lagi di asrama itu jadi tau namaku. Bagus.
Setelah masuk, kita duduk di loby asrama tersebut. Suasana di asrama enak juga. Bersih, nggak kayak di pasar burung. Cewek-cewek yang tinggal di situ juga cantik-cantik. Tiap kali liat cewek cantik lewat, wuusss, mataku jadi seger. Begitu liat Ratna, suram kembali. Di meja yang sedang kita duduki, maksudku, kita duduk di kursi yang ada mejanya juga, kita ngedata cerpen-cerpen peserta yang telah masuk. Lalu dipilih mana yang masuk ke tema lomba dan mana yang melenceng. Selesai mendata dan membaca naskah-naskah cerpennya, aku gedek-gedek. Bukan, aku bukan robot gedek. Maksudku aku geleng-geleng kepala. Sebagai tanda seakan-nggak-percaya kalo naskah yang kita terima ini adalah hasil karya anak SMP dan SMA.
Baca bagian awal naskah, mataku melotot, WOW.
Baca bagian tengah, aku geleng-geleng, GILA’.
Baca bagian akhir, aku kejang-kejang, PARAH.
Aku seakan nggak percaya naskah-naskah cerpen yang aku baca ini tulisannya anak SMP/SMA. Aku kira, ini tulisan anak SD. Huehehe.. Nggak lah, bercanda. Yang bener: Sumpah, aku terharu ngebaca naskah-naskah mereka. Mereka keliatan niaaaaattt banget. Aku salut. Di sisi lain, mungkin jika mereka para peserta tau kalo yang jadi panitia orang-orangnya kayak aku ini, mereka akan nangis di balik pohon. Udah niat-niat bikin cerpen yang paling maksimal, ee nggak taunya panitianya ingusan kayak aku. Tapi di sisi yang lain lagi (ada berapa sisi sih?), rekan-rekan panitia yang lain jauh berbeda dari aku. Mereka adalah panitia-panitia yang profesional. Yang bener-bener serius ngegarap acara ini. Aku juga serius, tapi mungkin levelnya nggak setinggi temen-temen panitia yang lain.
Tugas selanjutnya dari (bos) Ratna datang di H-2 acara puncak. Tepatnya hari Minggu tanggal 15 Mei. Dia sms aku:
“Mi, buatin co card ya! 16 buat peserta mading, 10 buat yang puisi. Pake kertas asturo. Dibuat beda ya.. tingkiu”
“siapp boss” balesku. Singkat, padat, dan berwibawa (???).
Malemnya, aku langsung bikin co card. Buat yang belum tau co card itu apa, ini aku sesatin jelasin. Co card, co adalah singkatan dari cooperatif yang artinya kerja sama. Card artinya tentu saja, kartu. Jadi, co card itu artinya ‘kartu yang bisa kerja sama’. Dan kartu yang bisa diajak kerja sama tidak lain tidak bukan adalah kartu ATM. Yak, betul sodara-sodara, aku disuruh membuat kartu ATM oleh (bos) Ratna.
Besok paginya, hari Senin, aku ketemu Ratna di kelas ketika kita mau kuliah. Dengan penuh semangat, layaknya anak TK yang mau ngasih liat hasil gambarannya ke gurunya, aku tunjukkin hasil kerjaku semalem membuat co card. Tentunya bukan co card ATM, ini co card beneran. Yang aku buat dari asturo. Semalem aku bener-bener membuat co card. Aku membuat 2 model. Pertama model bunder warna kuning untuk lomba mading (model bunder aku dapatkan dengan memake gelas sebagai cetakan. Aku emang kreatif), dan model kedua, persegi empat warna merah untuk lomba puisi.
“Ratna,” aku manggil dia. “aku udah bikin co cardnya”, lanjutku dengan senyum bangga.
“oh ya?” kata Ratna. “mana?”
Aku ambil hasil karya seniku semalem dari dalam tas, co card warna warni yang aku bungkus pake plastik, aku liatin ke Ratna, “ini !”
Co cardnya berpindah dari tanganku ke tangan Ratna. Dia perhatiin bentar, terus bilang:
“wah fahmi,” Ratna menaikkan alis. Aku semakin menyunggingkan senyumku. Senenglah kalo hasil karya kita akan di puji orang.
“INI KEKECILAN FAHMIIIIII!!”, Lanjut dia. Sialan. Aku kira dia bilang “wah fahmi”, terus akan keluar pujian-pujian kek “bagus banget!”, atau “kamu emang hebat!!”.
Merasa nggak terima, aku membela diri.
“nggak lah, itu nggak kekecilan, pas kog”, kataku. “coba tanya sama Shera” aku menyarankan meminta pendapat temen lain.
“Sher,” Ratna manggil Shera. “menurutmu kayak gini kekecilan nggak?”.
“siapa itu yang buat?” tanya Shera setelah ngeliat co cardnya.
“aku” jawabku ngerebut pertanyaan Shera buat Ratna.
“IYALAH ITU KEKECILAN BEGOOO !!!”, kata Shera. Tegas, lugas, dan jelas.
Aku jadi semakin merasa kayak anak TK yang mau ngeliatin hasil karyaku ke ibu guru, “bu guyu ini aku habis gambal gunung” anak TK, cadel. “wah Fahmi,” kata bu Guru. “ini bukan gambar gunung, ini lebih mirip gambar bangkai kucing”. Bisa dibayangin perasaannya kan?
“terus gimana ini Rat?” tanyaku pada Ratna dengan wajah bingung.
“diulang lagi aja Mi. Yang lebih gede.”
“diulang?”
“iya”
Kancrut. aku mesti melakukan pekerjaan yang sama dua kali. Kalo bahasa Jawanya ‘mindo gaweni’. Tapi nggak papa. Aku akan berusaha. Aku pasti bisa. Ayahku pasti akan bangga. Uuoohh..
Eniwei, tugas membuat co card ini pada akhirnya dikerjain sendiri oleh (bos) Ratna. Aku sendiri, aduh, dimana ya aku saat itu? aku lupa.
Masih di hari yang sama, sorenya aku dan juga temen-temen panitia yang lain nyiapin ruangan yang akan dipake buat acara puncak, ruang Auditorium di gedung Poerbatjaraka. Di antara temen-temen panitia ini, ada juga (bos) Ratna. Ketika aku lagi mindah-mindahin kursi, (bos) Ratna nyamperin aku.
“hai Fahmi, kencan yuk?”, NGGAK DENK. Dia nggak bilang gitu.
Dia bilang “eh Mi, kamu ke Margono aja”
“siapp boss” sebagai pengikut yang baik aku selalu menuruti apa perintah Bu Bos.
“emang kamu udah ngerti aku nyuruh apa?”
“belum” jawabku polos.
“hiiihhh” (bos) Ratna gemes. “kamu ke Margono natain kursi”
“oh, oke.. siapp”
“sama ngajak temen lain”
Bagiku, setiap omongan (bos) Ratna adalah titah yang harus aku kerjakan. Itu kulakukan sebagi bentuk penghormatanku padanya (entah mengapa 2 kalimat barusan membuatku merasa seperti Pat Kai, dan Ratna adalah Biksu Tong). Selain lebay, (bos) Ratna juga memiliki kelebihan-kelebihan lain, seperti berjalan di atas api, makan beling, dan narik truk pake bulu hidung. Itu yang membuat aku kagum. Makanya aku nurut sama dia. Oh (bos) Ratna, bagi goceng donk!
Oh ya, sekedar info, acara AS ini nantinya akan dilaksanakan di dua tempat terpisah. Yaitu di Auditorium gedung Poerbatjaraka dan di ruang 303 lantai 3 gedung Margono. Keduanya merupakan salah dua gedung yang ada di Fakultas Ilmu Budaya, UGM.
10 menit kemudian aku berada di dalam ruang 303 gedung Margono dengan 1 temen cowok. Tapi temenku malah di luar, nggak masuk. Hal pertama yang terlihat: ruangan kuliah yang cukup luas. Hal kedua yang terlihat: banyak kursi berantakan (sekitar 50an biji). Nha ini, kursi berantakan inilah yang (bos) Ratna suruh buat dirapiin. Tanpa banyak nasi basi, aku bergerak merapikannya. Dengan penuh cinta, aku memindahkan kursi satu persatu menjadi barisan yang rapi. Dan 15 menit kemudian, voila... ruangan yang tadinya berantakan menjadi rapi, wangi, dan keset (emang setrika?). Setelah keringetan dan belepotan, aku duduk di salah satu kursi. Sejenak memandangi isi ruangan. Ngeliat ruangan yang rapi kayak gini, membuat jiwaku tenang, damai, aman, sehat sentosa sejahtera bahagia selamanya. Dalam hati aku tereak “MAKAN NIH (BOS) RATNA!! MAKAN NIH!! HUAHAHAHAHA”. Aku tarik nafas dalam-dalam, hembuskan, fiuuuuuhhhh.... ah, hidup ini emang mudah.
Disaat aku lagi pewe-pewenya duduk, temenku yang dari tadi di luar masuk. Aku cuman ngelirik aja. Kulihat ekspressi mukanya, jelas terlihat dia kaget. Wajar lah, dia kaget ngeliat ruangan yang tadinya acak-acakan nggak jelas berubah menjadi ruangan yang rapi dan jelas. Pasti dia kagum sama aku.
“Mi, ini beneran rapi gini?” tanya dia.
“bener lah” jawabku santai.
“Lho? Bukannya ini mau dikosongin?”
“HAH? APA?” aku nggak nangkep.
“ini mau dikosongin, kan buat lomba mading..”
“yang bener?? Kata siapa kamu??” aku mulai panik.
“lha Ratna nyuruhnya gimana?”
“katanya dirapiin gitu”
“tapi kan ini buat pameran mading, masag ada kursinya gini?”
“bentar deh”, aku ngambil hape di saku. “aku sms Ratna dulu”.
Sejujurnya aku cukup panik. Gimana nggak? Kalo misalnya ternyata ruangan ini mau dikosongin, berarti aku harus ‘menyingkirkan’ kursi-kursi yang telah aku tata rapi. Ini sama aja aku menjilat ingus sendiri. Aku sms Ratna:
“Rat, ini kursi-kursinya mau ditata rapih apa dikosongin?”
Sent.
Tak berapa lama kemudian hapeku bergetar, Ratna ngebales.
“dikosongin Mi..”
JLEB!
Hal pertama yang keluar dari pikiranku, kampret.
Hal kedua yang keluar dari pikiranku, kampret.
Hal ketiga yang keluar dari pikiranku, kampret kuadrat.
Masih duduk, aku baca lagi smsnya “dikosongin Mi..”. Lalu aku memandang seluruh isi ruangan. Ruangan yang indah, kursi tertata rapi. Tapi perasaanku nggak seperti pertama tadi yang ngerasa tenang, damai, dan blablabla. Aku lemes. Mood natain kursi berubah menjadi mood pengen mencincang badan Ratna jadi 327 eksemplar. Aku cabut omonganku tadi yang mengatakan “hidup ini emang mudah”, kawan, hidup ini nggak lah mudah, kawan. HIDUP INI RIBET!
Mungkin, jika (bos) Ratna tau tentang ini, dia akan tereak-tereak “HAHAHA!! MAKAN TUH FAHMI!! MAKAN TUH!! HUAHAHAHAHA”.
Kayaknya semua yang diperintahkan (bos) Ratna ke aku, yang aku rasa udah aku kerjain dengan bener, ternyata JAUH MENYIMPANG. Maafkan anak buahmu yang ganteng ini (bos) Ratna. Aku janji akan berubah jadi lebih baik. Aku akan berusaha. Demi orang tuaku yang di sana. Demi adik-adikku yang sudah 3 minggu nggak makan nasi. Aku yakin pasti bisa. Apaan sih?
***
Terlepas dari betapa gobloknya kerjaanku dalam kepanitian Apresiasi Sastra ini, secara keseluruhan acaranya berjalan sukses. Kekurangan-kekurangan yang ada bisa ditutupi oleh kelebihan yang lain. Semuanya bekerja dengan maksimal. Semua divisi, semua koor, semua temen-temen panitia, semuanya mempersembahkan yang terbaik. Dan secara pribadi, aku bangga menjadi bagian dari panitia ini. GO SASINDO 2010!!

Sabtu, 14 Mei 2011

am I stupid?

Di Indonesia ada satu pepatah “jika guru kencing berdiri, maka murid kencing berlari”.
Semua orang pasti tau artinya. Kalo ada yang belum tau, ini aku jelasin. Maksud dari pepatah tersebut adalah: seorang murid akan selalu mengembangkan/menambah apa yang diajarkan oleh gurunya. Misal, seorang guru mengajari muridnya untuk berjalan, mungkin si murid mungkin akan berlari. Guru mengajarkan melompat, si murid terbang. Guru mengajarkan berbicara, si murid nyanyi. Yang gitu-gitu deh pokoknya.
Yang ngeganjel di pikiranku, gimana kalo gurunya kencing kayang? Mungkin, si murid akan kencing sambil salto. Kebayang kalo ada yang kencing sambil salto, pasti keren banget.
Di sisi lain, seorang murid (mungkin) tidak akan ‘mengurangi’ apa yang diajarkan gurunya. Dari pepatah di atas kita dapat melihat bahwa murid memiliki kecenderungan untuk ‘mengembangkan/menambah’, bukan ‘mengurangi’. Dari ‘berdiri’ ke ‘berlari’, itu berarti menambah. Jadi nggak mungkin ada pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing tengkurep”.
***
Sewaktu SMP dan SMA, aku selalu merasa menjadi murid yang paling goblok di kelas. Dan belakangan aku sadar, ternyata itu bukan hanya perasaanku saja, tetapi orang lain juga menangkapku seperti itu. Mereka menilai aku goblok. Mengenaskan. Bahkan seorang guru, yang seharusnya membimbing dan menuntunku ke jalan yang lurus, malah semakin menenggelamkanku ke jurang kegoblokkan. Yah, nggak semua guru tentunya.
Tapi pernah ada satu guruku di SMA yang betul-betul mencederai harga diriku sebagai anak manusia (meskipun sebenernya aku nggak punya harga diri). Jadi gini ceritanya: di suatu kelas Kimia saat aku kelas 12, ketika ibu guru kimiaku yang bernama Bu Nanik Sumarni (tanpa sensor), sedang menjelaskan materi di depan kelas, dan murid-murid ada yang dengerin, ada yang ngobrol sendiri, ada yang jualan ayam. Untuk yang terakhir, aku bercanda. Aku sendiri saat itu cuman mangap merhatiin bu Nanik ngasih materi, berharap materi yang disampaikan bisa masuk ke otakku lewat mulut. Kenyataannya: aku malah ngeces. Sekedar info, Bu Nanik ini udah tua, udah nenek-nenek. Ini satu sisi yang ngebuat aku salut sama dia. Meski udah tua tapi dia masih sangat semangat mengajari kita tentang kimia. Satu sisi lain yang aku nggak suka, dia killer. Lebih horor lagi, dia hafal sama aku. Setelah selesai ngasih materi, beliau duduk di kursi guru. Matanya menyapu seisi kelas. Mencari murid-murid yang sekiranya nggak merhatiin dia. Bagai mercusuar, yang ketika sorotan lampunya mendeteksi gerakan mencurigakan bakalan langsung ditembak pake bedil. Bu Nanik juga seperti itu, ketika matanya menangkap satu siswa yang nggak merhatiin dia, bakalan langsung dilempar pake penghapus. Kadang kalo lagi kesel, meja pun dilempar.
“sampai di sini” kata bu Nanik. “sudah mudeng semua?”
Sekelas malah pada diem.
“fahmi sudah mudeng?” lanjut bu Nanik yang seketika itu juga membuat aku kejang-kejang.
Aku gelagapan. Kenapa tiba-tiba dia memanggilku?? Kenapa aku yang dipanggil?? Padahal masih banyak temen yang lebih pinter. Hmmm.. mungkin aku dianggap yang paling merhatiin, mungkin aku dianggap paling pinter, mungkin aku dianggap paling sexy (LHO?). Aku ge’er.
“uuhh.. oohhh” kataku kikuk. “iya bu, mudeng” padahal, nggak ngerti sama sekali.
“oke” kata bu Nanik dengan nada hendak menyelesaikan kelas. “karena fahmi aja sudah mudeng, ibu yakin kalian semua juga pasti mudeng. Jadi ibu rasa udah tidak ada yang perlu dijelaskan lagi.”
Hening sejenak.
Aku bengong, apa maksudnya? Kog ngebawa-bawa namaku segala.
5 detik kemudian, 2-3 anak tertawa. Aku diem, kenapa tertawa?
10 detik kemudian, separo isi kelas ketawa. Aku tetep diem, ada apa sih?
15 detik kemudian, seisi kelas ketawa semua. Aku masih tetep diem, aku baru nyadar, 
KANCUUUUUTTTTTT!! AKU DIJADIIN PATOKAN PALING GOBLOK DI KELAS.
Ini bener-bener kacau. Parah ni guru. Jadi ternyata maksud dia bilang “kalo Fahmi aja mudeng, yang lain pasti juga mudeng” adalah menjadikan aku sebagai patokan paling goblok. Ya, maksudnya, ketika Fahmi (yang goblok) aja mudeng, pasti yang lain (yang lebih pinter) akan otomatis mudeng juga. Kampret. Aku gondok setengah mati. Kalo saja dia masih seumuranku, pasti udah aku gencet. Sayang dia udah berumur, yang kalo dicubit aja bakal koma tiga minggu. Akhirnya aku cuma bisa ngelus dada, eee malah horny sendiri (LHO??).
***
Sekarang, aku udah kuliah, dan udah nggak ada lagi pelajaran Kimia buatku. Dan sekarang aku berani mengatakan “aku tidak akan menjadi orang paling goblok di kelas Kimia.. huahahaha”. Cukup Bu Nanik aja.
Namun di balik itu semua, di balik anggapan goblok terhadap aku, aku merasakan manfaatnya sekarang. Anggapan tersebut aku jadikan batu pijakan untuk aku melangkah sampai saat ini. Aku menginjak kegoblokanku untuk meraih sesuatu yang lebih tinggi derajatnya; yaitu ‘tidak goblok’. Ketika aku mengingat ini, mengingat kejadian yang sudah 3 tahun terlewat, sampai aku tulisankan di sini, aku merasakan romantisme yang seakan terus mengatakan “Fahmi, kamu harus beranjak”. Ya, jangan sampai aku dijadikan ‘patokan paling goblok’ lagi. Dimanapun itu, nggak hanya di kelas kimia. Dan aku sadar, Bu Nanik Sumarni berperan dalam romantisme ini.
Hasilnya sekarang: LUAR BIASA. Aku udah nggak goblok-goblok banget. Tapi tetep aja masih ada unsur-unsur gobloknya. Nggak masalah, ‘pijakanku’ akan semakin tinggi.
***
Pesan moral: Cintailah produk dalam negeri. (Maaf nggak nyambung. Maklum, masih goblok. Huehehe).