Senin, 20 Februari 2012

Sepedamania 2 (Dikejar-kejar Gukguk)


Pernahkah kamu tengah malem dikejar-kejar anjing? Kalo pernah, gimana perasaannya? Pasti ANJING banget kan?

Nah, midweek kemarin aku ngalamin kejadian itu, tengah malem dikejar-kejar anjing. I mean it.

***

Rabu (15/2) tengah malem, aku dan beberapa temen bersepeda keliling Jogja. Ya, belakangan ini aku emang lagi doyan banget sama yang namanya maen sepeda tengah malem. Menikmati Jogja dini hari. Enak aja rasanya ngeliat jalanan yang biasanya rame mobil sama motor jadi sepiiiiiii banget. Aku paling seneng ngeliat jalanan kota yang sepi. Karena jalanan jadi berasa milik nenek kita. Kita bisa bebas guling-gulingan di tengah jalan tanpa takut kelindes Transjogja (karena gak ada Transjogja lewat jam 12 malem). Dan ya, ngeliat jalanan yang sepi gitu, aku langsung aja tiduran sambil guling-gulingan di tengah jalan. Serius. Asik loh.

Bukan, saya bukan korban perkosaan angkot

Posisi favoritku: tidur terlentang di tengah jalan terus ngeliat bulan di langit.

Sok mikir, sok sweet, sok imah

Biasanya kalo udah gitu, temen-temen bakalan pada mencemooh. Ada yang ngatain norak lah, katrok lah, gila lah, bahkan ada yang bilang “Astaghfirullah”. Dan seperti biasa juga, aku gak peduli. Mehehe.

Oke, balik ke cerita..

Kemarin itu aku sepedahan bersama 5 temen bernama Dedi, Imam, Dian, Affan, dan Da’im. Malam itu kita sepedahan dengan Bandara Adi Sutjipto sebagai tujuan akhirnya. Biasanya paling cuman ke alun-alun selatan.

Sewaktu mulai masuk ke area bandara Adi Sutjipto, posisiku berada di urutan kedua dari belakang. Di depan ada Dedi, Imam, Affan, dan Da’im. Sementara Dian di belakangku. Jarak antara aku dengan keempat pembalap di depan cukup jauh. Ada kali 30 meter. Dian di belakangku juga cukup jauh.

Masuk ke Bandara sepertinya akan mudah dan menyenangkan.

Yah, sepertinya.

Tanpa ada firasat apapun, tiba-tiba dari depan terdengar lolongan “gukguk” yang sangat horor. Model suara anjing penjaga malem ngeliat penjahat. Seketika itu pula keempat temen di depanku memutar balik sepeda mereka, lalu berceceran menuju ke arahku. Di belakang mereka terlihat dua gumpalan bulu berwarna coklat dan putih bergerak cepat dan liar seperti mengejar keempat temenku itu. Oh, bukan ‘seperti’, tapi dua gumpalan bulu itu ‘memang’ mengejar temen-temenku.

Lolongan gukguk-nya kenceng banget.

Aku berhenti mengayuh sepeda.

Hanya sekejap saja keempat temenku itu sudah mendekat ke tempatku berhenti. Semuanya memasang tampang panik. Imam, yang berada paling depan di antara empat orang itu, dengan muka yang sangat panik berteriak ke arahku “ANJING!! AWAS, ANJING!!!”

Aku bengong.

Aku gak ngerti apakah Imam sedang MENGINFORMASIKAN bahwa ada “anjing” lalu menyuruhku untuk “awas”, atau dia sedang MENGGERTAK supaya aku tidak menghalangi jalannya. Aku gak ngerti. Tapi yang pasti saat itu pula aku ikutan muter balik, lalu ikutan memasang tampang panik.

Baru aja aku sempurna memutar sepeda, si Imam yang paling kenceng (dan paling panik) mendahuluiku sambil terus teriak “ANJING AWAS ANJING!!!”

Suara gukguk-nya semakin terasa dekat.

Aku langsung teringat teori tentang cara selamat menghindari serangan binatang buas, yaitu: “Kamu tidak perlu berlari lebih cepat dari binatang itu, kamu hanya perlu berlari lebih cepat dari teman kamu.

Dan Imam baru saja mempraktekan teori itu.

Ini berarti: MAMPUS GUE!

Sekilas aku noleh ke belakang, Dedi dan Da’im berhasil menghindari kejaran si gukguk dengan nyungsep ke trotoar. Affan yang berada di tengah jalan masih dikejar-kejar satu anjing. Anjing yang satunya, berlari ke arahku.

“AAAAAAAAAAAAARRRGGGHHHH!!!!” aku jerit, lalu menggenjot pedal sepeda sekenceng mungkin. Secepat mungkin.

Apa daya, mengingat kekuatan fisikku yang sangat lemah, aku gak yakin bisa selamat dari kejaran anjing ini. Sempet kepikiran untuk berhenti saja, menjelaskan bahwa aku bukanlah maling lalu nyerahin sepeda sebagai jaminan. Pulang jalan kaki gak papa deh, asal gak digigit. Namun, aku sangat sadar bahwa anjing bukanlah makhluk yang bisa diajak kompromi. Lagian, NGAPAIN JUGA NGASIH SEPEDA KE ANJING???

Raungan si anjing semakin menjadi-jadi.

Oh Tuhan, tolong hentikan anjing ini.

Aku gak mau mati digigit anjing. Aku gak mau mati digigit anjing. Aku gak mau repot mandi pake pasir.

Mantra itu menjadi semacam Extra Joss yang membuatku cukup kuat dan kencang mengayuh sepeda.

Setelah kejar-kejaran sampai sekitar 100an meter, akhirnya dua anjing kunyuk itu berhenti mengejar.

Kami menang.

Kami semua ngos-ngosan.

Aku nangis bahagia.

“Hhh.., hhh.. hhhh..” hanya suara napas tersengal-sengal yang keluar dari mulut kita ber-enam untuk beberapa saat.

“Kampret itu anjing.” kata si Imam kesal. Saking keselnya dia sampe lupa bahwa kampret dengan anjing itu dua spesies yang berbeda.

H-iyo, h-asu tenan.” aku nambahin masih sambil ngos-ngosan.

Aku baru tau kemarin itu kalo di bandara ternyata suka dijaga anjing kalo malem. Eh, gak tau juga sih apakah itu emang anjing penjaga atau cuman anjing iseng. Atau, apa karena muka kami yang kriminal sehingga menarik nafsu anjing-anjing itu buat ngejar? Gak tau juga. Yang jelas anjing itu hampir membuat jantungku copot.

Setelah suasana mulai kondusif, jantung kembali berdetak normal, kita semua lalu...., tertawa rame-rame. Kita menertawakan kebodohan kita masing-masing.

“Kita kayak maling, sumpah.”

***

Sebelum pulang, kita sempet foto-foto di depan jalan masuk bandara. Tapi hanya foto pake hape, jadi hasilnya jelek (orangnya juga jelek). Tapi gak papa, ini aku mau pamer foto (jelek) kami:

TKP

Bergaya setelah dikejar anjing

Dari kiri ke kanan : Affan, Imam, Fahmi, dan penampakan

Biasanya, setelah capek sepedahan, kita kongkow-kongkow bentar di angkringan atau warung burjo 24 jam, atau sesekali ke Mekdi. Pada ngobrol-ngobrol yang NGGAK berkualitas. Tapi seru. Paling pewe kalo di warung pinggir jalan, gelar tiker di trotoar, lanjut tiduran. Asik loh. :D

Kadang aku juga suka bawa-bawa netbook, biar kalo ada kejadian menarik (atau horor) bisa langsung aku tulis kayak gini. :D

Padahal lagi gak pake celana



Oke, segitu dulu. Sampai ketemu di postingan selanjutnya.. :)

Sabtu, 04 Februari 2012

The Power of Blog*


Pagi ini aku bangun seperti biasa... Bangun jam 6, dan aku merasa ini masih subuh, terus aku sholat.

Setelah subuhan, dengan bau jigong masih di mana-mana, aku blogwalking ke blog langgananku (Naked-traveler.com, radityadika.com)

Ketika aku membuka naked-traveler, di situ ada postingan terbaru yang ngebahas dunia “blog”. Judulnya The Power of Blog*. Judul yang kemudian aku jiplak untuk kujadikan judul postingan ini. Postingan yang inspiratif itu bisa dilihat di sini.

Membaca postingan itu membuat aku semakin semangat untuk terus ngeblog di blog ini. Naked-traveler menurutku adalah salah satu blog yang keren, sangat berhasil, sukses, sampai dibukuin segala. Dan well, ketika kita melihat sesuatu yang telah sukses di depan kita, itu membuat kita semakin terinspirasi untuk mengikuti jejak keberhasilannya, dengan jalan yang sama.

Namun di sisi lain, postingan The Power of Blog* itu sekaligus juga membuat aku down. Down dalam artian “minder”. Minder karena ketika aku melihat blog sendiri, mencoba berkaca, aku bisa melihat diriku yang masih sangat keciiiiiiiiiiillllllll sekali. Dalam dunia blog.

Selalu seperti itu.

Berada di antara dua arus yang berlawanan. Semangat dan Minder.

Setelah itu aku aku juga iseng-iseng buka blog orang, dan yang tidak beruntung (atau malah beruntung?) aku isengin adalah blog kangenkasur.wordpress.com.

Aku buka blog itu juga dari Naked-traveler. Membaca blog kangenkasur itu, aku kembali minder. Blog itu keren menurutku. Isinya pake bahasa Inggris pula.

Blog lain yang aku isengin adalah rifkiamelia.multiply.com. Itu blog punyanya atasanku di SKM Bulaksumur. SKM Bulaksumur adalah badan pers mahasiswa di UGM. Aku dulu ikut itu, jadi reporter. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Aku non-aktif secara tidak terhormat. Hehe. Sudah lah, nggak perlu menyinggung itu.

Balik lagi ke rifkiamelia.multiply.com, membaca blog itu aku juga kembali minder. Tulisan di blog itu rapih, terstruktur, enak dibaca. Nggak kayak blog’ku ini yang awut-awutan. Tuh kan, minder lagi.

Hmm.. sampai di sini, aku malah bingung.

Kenapa aku minder ya?

Geblek.

Yah, inilah bodohnya saya. Sering aku nggak ngerti alasan kenapa aku begini, kenapa aku begitu. Kenapa aku melakukan ini, kenapa aku melakukan itu. Untuk apa? Oh, I can’t explain to myself why I so stupid.

So, what should I do with this my stupidness?

Well, I don’t know.

Eh, kog pagi-pagi malah galau gini? Aduh, soridorimori... Mandi dulu ah.