Rabu, 05 September 2012

Yang Pertama Yang Tak Terlupakan


Apapun yang berbau “pertama” selalu tak terlupakan.

Sewaktu SD dulu, aku selalu berangkat pagi-pagi sekali di hari pertama masuk sekolah (hari pertama tahun ajaran baru). Ini kulakukan karena dulu di SD, hari pertama masuk berarti hari “penentuan” tempat duduk. Siapa yang datang paling awal, dia bebas memilih tempat duduk untuk dipakai selama setahun ke depan. Peraturan tak tertulis itu menyebabkan aku dan kawan-kawan SD-ku berlomba berangkat pagi-pagi agar bisa mendapatkan posisi tempat duduk idaman.

Sekarang, aku bukan anak SD lagi, aku sudah kuliah semester lima, sudah tidak ada lagi peraturan aneh itu. Tetapi kemarin, Senin tanggal 3 September 2012, entah terkena angin nostalgia dari mana, aku pengin menjadi orang pertama yang masuk kelas di hari pertama aktif kuliah. Ya, Senin 3 September 2012 kemarin adalah hari pertamaku kuliah setelah sebelumnya libur panjang selama lebih dari satu bulan.

Sangat excited untuk kuliah perdana ini.

Kelas pertamaku akan dimulai pukul tujuh pagi, maka pada pukul 06.30 waktu Jogja aku berangkat. Padahal, di hari-hari biasa jam segitu aku baru bangun. Padahal pula, jarak tempat tinggalku dengan kampus hanya LIMA MENIT!

Menurut perhitunganku aku akan sampai di kampus pukul 06.35 dan aku yakin akan menjadi mahasiswa pertama yang memasuki kelas. Aku akan menjadi pelopor. Aku akan menjadi teladan bagi mahasiswa lain. Status sosialku akan meningkat. #Apaan sih?

Tiba di kampus pukul 06.40 (melenceng sedikit dari perkiraan, karena ternyata jam segitu jalanan ramai anak sekolah), aku bergegas dari tempat parkir menuju ruang kelas. Sambil berjalan, aku mengecek ulang tabel jadwal kuliahku, memastikan tidak salah jadwal:

-       Hari: Senin
-       Mata Kuliah: Multikultularisme
-       Dosen: Dr. Pujiharto M.Hum
-       Waktu: 07.00 – 09.30
-       Ruang: Margono 403

Jari telunjukku menunjuk tepat di atas tulisan Margono 403, lalu aku menggumam sendiri, “Kelas ini akan jadi saksi keteladananku. Yeah!

Di kampusku, Fakultas Ilmu Budaya UGM, terdapat satu gedung bernama gedung Margono Djojohadikusumo. Gedung itu memiliki empat lantai. Masing-masing lantai memiliki beberapa ruangan yang berbeda-beda fungsinya. Di lantai satu atau dasar terdapat kantor jurusan Arkeologi, lantai dua ada kantor jurusan Antropologi dan juga ruang multimedia yang sering digunakan untuk seminar, sementara lantai tiga dan empat berisi ruangan-ruangan kuliah. Nah, ruang Margono 403 yang akan menjadi kelasku adalah salah satu ruang kuliah yang ada di lantai empat.

Lantai empat tidak menjadi masalah karena gedung Margono dilengkapi lift. Yang menjadi masalah hanyalah jika lift-nya mati.

Begitu sampai di depan lift, dengan beringas aku menekan tombol arah naik. Anehnya, pintu lift tidak terbuka. Aku tekan lagi lebih keras. Masih tidak terbuka. Aku tekan terus dan lebih keras lagi tetapi lift tetap tidak terbuka. Kesal, aku gebuk tombol sialan itu pakai palu.

Ada apa dengan lift ini?

Laksana seorang mekanik (amatir), mataku menyisir sekitar tombol: barangkali ada tombol lain yang terlewatkan. Lalu, mataku menemukan sesuatu. Tepat di bawah tombol itu, ada sebuah lubang pipih yang tidak salah lagi difungsikan untuk dimasuki kunci, istilahnya: “rumah kunci”. Rumah kunci itu mirip sekali dengan kontak di sepeda motor Mio. Bedanya, kalau di sepeda motor pilihannya antara memutar kunci ke on atau ­off (plus kunci stang), sedangkan di lift itu pilihannya antara lock dan run.

Dan, rumah kunci itu mengarah ke lock. Artinya, LIFT BELUM AKTIF!

Daaaammmnnnn!!!

Sembari misuh-misuh, aku berjalan di tangga menuju lantai empat. Yah, hitung-hitung olahraga pagi. #menghibur diri sendiri.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup menguras kalori, akhirnya sampai juga di depan pintu bertuliskan 403. Akhirnya... terima kasih ya Allah. Belum pernah aku merasa sebahagia ini ketika hendak masuk kelas.

Sejenak aku mengintip isi kelas melalui kaca yang ada di tengah daun pintu. Tepat seperti dugaanku, kelas masih kosong. Muahahaha. Antara perasaan bangga, haru, lelah, kesal, dan sedikit merasa bodoh, semuanya bercampur menjadi satu. Ah, senang sekali aku menjadi mahasiswa pertama yang masuk kelas di hari perdana kuliah.

Tanpa menunggu lama aku langsung memilih tempat duduk yang menurutku paling nyaman. Hak istimewa (kebebasan memilih kursi) ini hanya bisa diperoleh siapa yang datang paling awal. Ideku berangkat paling pagi ini sungguh merupakan ide brilian. Seharusnya aku mendapat nobel untuk ini.

Duduk sendiri di dalam kelas, aku melirik ke jam dinding yang menunjukkan pukul 06.50. Sepuluh menit lagi kelas akan dimulai tetapi belum ada teman lain yang datang. Aku tidak begitu heran. Kebanyakan mahasiswa/i mempunyai pandangan bahwa jika suatu kuliah dijadwal jam tujuh, berarti kuliah “yang sesungguhnya” akan dimulai jam 07.15. Biasanya memang begitu, beberapa dosen sering memberi toleransi beberapa menit untuk keterlambatan. Sayangnya, tidak sedikit mahasiswa/i yang malah menganggap toleransi waktu itu sebagai waktu reguler sehingga mereka berpikiran masuk kelas pukul tujuh lebih adalah tidak terlambat.

Aku menduga teman-teman lain baru akan sampai di kelas pukul 07.05. Ternyata, dugaanku meleset. Ketika jam menunjuk pukul 06.55, dua orang cewek (baca: mahasiswi) masuk ke kelas. Mereka terlihat bingung sebentar. Kemudian, mereka berdua melihat ke arahku, lalu melempar senyum. Aku tangkap senyumnya, aku lempar balik ke dia. Eh, dia melempar lagi. Aku bales lempar lebih keras, kena jidat mereka, kepala mereka bocor.

Aku yakin dua mahasiswi itu pas melihatku pasti berpikir, “Bujug buneng ini cowok rajin amat. Malu aku kalah rajin sama dia.

Dua mahasiswi ini nampak seperti mahasiswi pada umumnya. Tetapi yang aneh, aku tidak mengenal mereka. Ya, itu aneh. Sebab, seharusnya kelas Multikultularisme ini hanya diisi teman-teman seangkatanku yang sudah aku kenal semua. Aku sudah memastikan hal ini beberapa hari sebelumnya. Lantas, mereka berdua siapa?

Jawaban paling logis adalah aku yang kurang gaul sampai tidak tahu mereka adalah teman seangkatan. Tapi kalau dipikir lagi, aku sudah kuliah dua tahun, angkatanku berjumlah cuma 40an orang, mana mungkin ada yang belum aku kenal?

Ah, kenapa pula dipikir-pikir. Mungkin saja mereka mahasiswi dari jurusan lain yang mengambil mata kuliah ini. Atau bisa saja mereka kakak angkatan yang belum aku kenal. Yang jelas, mereka berdua cewek, aku cowok, dan kami berada dalam ruangan yang (masih) sepi. Aha, ini adalah momentumku untuk show off. Lagi pula, kedua cewek ini terlihat cukup menarik.

Buat cowok, show off untuk menarik perhatian cewek bukanlah soal sulit. Cowok tidak perlu memamerkan otot-ototnya yang kekar dan juga tidak perlu memecahkan tumpukan batu bata di hadapan cewek hanya untuk membuat si cewek terkesan. Yang perlu cowok lakukan hanya dua pilihan: bersikap cool atau sok cool.

Cewek cenderung lebih tertarik pada cowok yang cool karena mereka (para cewek) penasaran seperti apa kepribadian si cowok di balik kemisteriusannya itu. Perkara akhirnya mau serius tertarik atau tidak itu urusan belakang. Yang jelas untuk di awal, cowok yang cool lebih menarik bagi cewek dibanding cowok yang tidak cool. Aku tahu informasi ini dari sebuah artikel yang pernah aku baca di majalah Gadis.

Aku memulai sikap sok cool dengan mengangkat dan melipat kaki sebelah kanan lalu menumpangkannya pada paha kaki kiri. Punggung aku senderkan pada sandaran kursi, tetapi posisi badan tetap tegak. Gaya ini aku sempurnakan dengan meletakkan sebuah buku bacaan di meja, membukanya, kemudian berpura-pura membaca. Sebisa mungkin mataku tertuju pada buku, tidak menolah-noleh kemana-mana. Fokus.

Sampai di sini, aku bingung membedakan mana cool dan mana culun.

Di tengah pakem-pakemnya aku berlagak cool, tiga orang cowok masuk ke dalam kelas. Hanya selang tiga detik, di belakang tiga cowok itu, rombongan yang terdiri atas entah lima atau enam orang beriringan masuk ke dalam kelas. Dari semua orang yang baru masuk itu, tidak satu kepala pun yang aku kenal. Ini aneh. Mendadak aku diliputi kecemasan.

Di mana teman-teman seangkatanku?

Sudah jam 07.05 dan mereka belum datang. Ini aku yang terlalu rajin apa mereka yang terlalu malas?

Aku mulai berpikir ada yang salah di sini. Pikiran terburukku: jangan-jangan aku salah kelas?

Untuk memastikannya aku meng-SMS teman seangkatan yang seharusnya sudah duduk di kelas ini. Namanya Devita.

“Devita, kelas Multikultularisme di Margono 403 kan?”

Devita membalas, “Bukan, Mi. Di gedung F 305.”

TIIIDDDDDAAAAAAKKKKKKKKKK...

***

PS: Terlalu excited kadang membawa efek tidak baik, seperti salah membaca jadwal.

Kamis, 05 Juli 2012

Rumah Hantu #2


Kutipan Rumah Hantu #1:

Kami mengantre di depan pintu masuk (rumah hantu). Perjalanan yang mendebarkan akan segera dimulai.

Di sini, saya bingung mempersiapkan reaksi ketakutan seperti apa yang pantas saya ekspresikan. Apakah saya harus menjerit selepas-lepasnya? Atau menahan jerit agar terlihat elegan? Hal ini menjadi penting saya pikirkan karena ini menyangkut harga diri saya sebagai laki-laki di mata perempuan. Walaupun, saya sadar betul sedari awal saya sudah tidak punya harga diri di mata kawan-kawan saya ini. Tetapi, posisi sebagai lelaki satu-satunya menuntut saya untuk selalu tampil paling berani dalam situasi apapun.

Mampukah saya melakukannya?


Jawaban : TIDAK.

***

Di sela-sela mengantre, saya tak henti-hentinya merapalkan doa. Doa yang paling kencang saya panjatkan adalah agar saya tidak dipertemukan dengan hantu yang ramai di bioskop saat ini; seperti hantu “Mama Minta Pulsa”.

Hantu macam apa itu?

Hantu model begitu pastinya sangat menyeramkan (dan absurd). Saya membayangkan ada pocong loncat-loncat, lalu ketika sampai di depan muka saya, dia berkata datar, “Bagi pulsanya, Oom.” Saya pasti akan kabur sambil menjerit, “AKU GAK PUNYA PULSAAA...”

Tidak menutup kemungkinan selanjutnya akan ada “Hantu Minta Pin BB”. Kalau saya dijumpai hantu seperti itu, reaksi saya sama: berlari sambil menjerit, “HAPEKU BUKAN BEBEEE...”

Mungkin, kekhawatiran saya berlebihan. Tetapi begitulah keadaannya. Baru mengantre saja saya sudah merinding setengah mati. Kekhawatiran yang saya alami membuat saya jadi parnoan dan panikan. Bahkan, saya sempat berteriak “ALLAHU AKBAR!” ketika Febri menepuk pundak saya untuk mengatakan “Depanmu udah kosong, Mi, ayo jalan.”

Giliran kami masuk semakin dekat. Tinggal satu rombongan di depan dan setelah itu kami akan masuk. Rombongan di depan kami terdiri atas empat orang: dua pasang muda-mudi. Dari dua pasangan tersebut, si cowok terlihat cool, tenang, kalem, tidak menunjukkan gelagat ketakutan. Sementara si cewek, yang berdiri di belakang si cowok, nampak cemas dan gelisah sehingga sesekali ia merapatkan badannya ke si cowok.

Menyaksikan pasangan itu, entah kenapa saya menduga motivasi si cowok membawa pasangannya ke rumah hantu ini adalah agar si cewek ketakutan, dan berakhir dengan terus menerus memeluknya.

Ya, umumnya pihak cewek lebih penakut dibanding pihak cowok.

Nah, situasi bertolak belakang terjadi di rombongan kami. Febri, Boru, Beta dan Chicha (cewek) berada di ‘pihak tidak takut’, sementara saya (cowok) justru berada di ‘pihak takut’.

Jika pada rombongan di depan kami ‘pihak takut’ (baca: cewek) dibolehkan atau bahkan diharapkan untuk memeluk ‘pihak tidak takut’ (baca: cowok), maka rombongan kami berkebalikan. Di rombongan kami, pihak takut (baca: saya) harus siap menerima risiko babak belur jika berani mencoba memeluk pihak yang tidak takut (baca: dihajar pacar kawan-kawan saya itu).

Ya, kawan-kawan saya itu sudah punya pacar semua. Terlebih lagi, kawan-kawan saya itu berasal dari keluarga tentara dan pacarnya juga tentara. Bah! Bisa dibedil kepala saya ini jika sampai coba macam-macam.

Giliran kami masuk kini benar-benar tiba.

***

Pintu masuk rumah hantu ini terhitung kecil, hanya muat dilewati satu orang. Tidak ada daun pintu, hanya ada selembar kain hitam yang digantung pada bagian atas sebagai sekat zona dalam dengan luar. Tepat di depan pintu, berdiri seorang petugas pengecek tiket yang mengenakan pakaian horor (maksa). Petugas tersebut mengenakan jubah hitam yang besar, lengkap dengan penutup kepala yang tak kalah besar. Untuk menambah kesan misterius, kepalanya ditekuk sehingga wajahnya terhalang oleh kerudungnya yang lebar. Di mata saya, petugas ini tak lain adalah Voldemort. Voldemort yang kehilangan jati diri lalu banting setir jadi tukang tiket.

Saya menyerahkan lima lembar tiket kepada Voldemort. Voldemort mengecek sebentar, kemudian mengembalikannya lagi kepada saya sembari berkata, “Ini tiketnya nanti bisa ditukar Perdana Axis.”

Bah! Saya agak terkejut.

Voldemort zaman sekarang tidak puas hanya jadi petugas tiket, jualan pulsa pun dilakonin. Saya curiga, jangan-jangan nanti ada hantu Voldemort Minta Pulsa.

Saya menerima kembali tiket itu dan mengucapkan terima kasih.

Selanjutnya, kami masuk...

Dengan gemetar, saya menyingkap tirai hitam yang berfungsi sebagai pintu, lalu perlahan melangkah masuk. Di belakang saya, berturut-turut Febri, Boru, Beta, dan Chicha. Chicha yang posisinya paling belakang memegang pundak Beta, lalu Beta memegang pundak Boru, Boru memegang pundak Febri, Febri memegang pundak saya, dan saya memegang muka sendiri (baca: menutup mata).

“FEB, GELAP, FEB! AKU GAK BISA LIHAT APA-APA!” saya mulai meracau.

“Tanganmu dibuka dulu, bego!”

Begitu membuka mata, yang terlihat adalah ruangan sempit berukuran 3x3 meter. Di salah satu sudut terlihat pohoh bambu yang hampir layu, dan di sampingnya terdapat senthir (lampu teplok) yang menjadi satu-satunya sumber cahaya sekaligus memberikan nuansa remang-remang. Dua detik saya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan ini dan tak mendeteksi adanya penampakan. Yang saya lihat hanyalah sebuah lorong sempit dan gelap di sudut sebelah pohon bambu.

“Itu, Mi, jalan ke sana, Mi.” Febri memberi instruksi sambil menunjuk arah lorong sempit-gelap itu.

Kami mengendap-endap melintasi ruangan remang-remang untuk menuju lorong sempit-gelap yang ditunjuk Febri. Pas sampai di mulut lorong, saya berhenti. Lorongnya gelap. Sangat gelap.

“Kenapa berhenti, Mik?!” suara Febri terdengar nyaring.

“Gelap banget sumpah! Gak kelihatan jalannya!” saya tak kalah nyaring.

“Tanganmu udah dibuka belom??”

“UDAH!”

Saya baru hendak melanjutkan langkah ketika tiba-tiba Chicha di belakang menjerit. Ada apa? Saya menoleh, dan... mendadak sesosok makhluk hitam melompat keluar dari balik pohon bambu di sebelah kami. GENDERUWO!!

Chicha menjerit, Beta menjerit, kami berlima menjerit. “HWUUAAAAAAAARRGGGHH...”

Tanpa berpikir saya langsung melompat masuk ke lorong kegelapan. Lari. Saya tidak peduli jalannya nggak kelihatan. Kami semua berlari dan menjerit. Baru lima langkah berlari... BRAKKK!!!

Saya menumbuk tembok yang terbuat dari bambu!

Sontak saya mengumpat.

Panik, saya menyeruduk membabi buta ke segala arah. Dan hasilnya sama: nabrak tembok lalu mengumpat. Semakin panik, saya menendang-nendang tembok sambil berteriak, “MANA PINTU KELUARNYA??!!! KEMANA, WOY?!! MANA PINTUNYA?!! AAAAARRGH!!”

Kawan-kawan saya di belakang terus mendorong saya sambil tak berhenti menjerit. Saya mau nangis.

Di tengah kepanikan mahadahsyat ini, di dalam kegelapan, samar-samar mata saya menangkap sesosok bayangan putih melayang di udara. Bayangan putih itu bergerak mendekat ke arahku. Semakin dekat... semakin dekat... semakin dekat... dan saya pun mengerang, “AAAAAARRRGGGHHH...”

“Tenang, Mas, Tenang! Saya guide!” bayangan putih itu berbicara tiba-tiba.

Setelah mengecilkan volume erangan, saya segera tersadar bayangan putih itu adalah seorang mas-mas biasa, bukan setan. Karena keadaan yang terlampau gelap (dan kulit mas-mas itu sepertinya juga gelap), menjadikan yang nampak darinya hanya kaus putih yang ia kenakan. Asem, ternyata guide. Saya sempat mengira ia adalah hantu tank top melayang.

“Jalannya mana, Mas? Gak kelihatan apa-apa di sini.” protes saya kepada mas-mas guide itu.

“Lewat sini, Mas.” jawabnya singkat lalu melangkah menunjukkan jalan.

Kami pun mengekor mas-mas guide itu. Mas-mas guide berjalan cukup cepat sehingga saya juga mempercepat langkah kaki saya untuk mengimbanginya (dan supaya tidak kehilangan jejak!).

Hal selanjutnya yang saya tahu adalah rombongan berjalan terlalu cepat sehingga saya tidak sempat mengamati apapun yang saya lewati. Yang saya tangkap, kami berjalan memasuki suatu ruangan demi ruangan. Ruangan yang gelap, sempit, pengap, mirip kandang kuda. Antara satu ruangan dengan ruangan lain disekat menggunakan kain hitam. Dan, di setiap ruangan, dijaga beberapa “penunggu” yang pekerjaannya mengageti orang lewat.

Entah berapa ruangan yang kami lewati dan entah berapa kali kami menjerit dan mengumpat (terutama saya) sampai akhirnya kami keluar ke ruangan semi terbuka. Semi terbuka, karena masih ada pagar yang mengelilingi, tetapi bagian atapnya sudah tidak ada sehingga cahaya bulan yang kebetulan terang mampu menjadi lampu alam. Lega rasanya. Ternyata cuma begini doang. Saya merasa sangat berterima kasih sekali kepada mas-mas guide. Kalau tidak ada dia, kemungkinan saya sudah mati menjerit di dalam.

Saya mengatur napas, dan adrenalin pun kembali normal.

Kelegaan saya mendadak pupus, segera setelah menyadari ternyata ruangan semi terbuka ini bukanlah akhir dari perjalanan kampret ini.

Bersambung (lagi)...

Jumat, 15 Juni 2012

Rumah Hantu #1


Saya termasuk tipe cowok yang takut hantu, karena itu saya sering menjadi bahan ejekan kawan-kawan saya. Saya dikatakan penakut, ‘cemen’, tidak gentle, banci. Padahal, emang iya (lho?).

Seperti yang terjadi beberapa malam lalu, saya diledek habis-habisan ketika menolak ajakan beberapa kawan untuk pergi wisata “rumah hantu”. Rumah hantu yang dimaksud ialah rumah hantu ciptaan manusia yang dibuat untuk kepentingan komersial. Bukan rumah hantu dalam arti senyatanya. Namun, sekalipun saya tahu pasti rumah hantu (dan hantunya) itu buatan manusia, bagi saya tetap saja menyeramkan.

“Kamu gak berani???” seorang kawan perempuan bernama Febri bertanya dengan ekspresi sumpah-lo? “Ih, cowok kok takut hantu. Kagak gentle!”

“Fahmi meragukan cowoknya.” kawan lain bernama Chicha menimpali.

“Jangan-jangan sebenarnya kamu cewek ya, Mi?” Beta, kawan yang juga sedang bergabung tak mau ketinggalan.

Mendapat cemoohan dari lawan jenis seperti itu, jelas saya tidak terima. Ke-cowok-an saya dilecehkan! Saya langsung pasang sikap hendak menurunkan ritsleting celana, lalu bilang “MAU LIHAT BUKTI AKU COWOK?!”

“Makasih, Mi,” Chicha menjawab enteng, “lagi nggak pengin muntah.”

Saya diam tak menanggapi, tapi dalam hati mengumpat: Setan!

***

Malam itu, saya bersama empat kawan saya: Febri, Chicha, Beta, dan satu lagi Lisna a.k.a Boru tengah menikmati jagung bakar di depan GOR UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) ketika Febri mengusulkan wisata “rumah hantu”, dan saya menolaknya (yang kemudian menjadi bahan olok-olokan). Saya menolak dengan alasan yang bagi saya cukup logis: NGGAK BERANI. Namun ternyata alasan itu tidak cukup logis bagi kawan-kawan saya yang notabene berbeda jenis kelamin dengan saya. Mereka mengintimidasi saya untuk ikut.

“Mi, kalau kamu masih mau kita anggap cowok, kamu harus ikut.” kata Febri dengan nada (+muka) menantang.

Tantangan Febri membuat saya panas. Memang, perut saya tidak six-pack dan kaki saya tidak berbulu, tetapi jika sampai ada wanita meremehkan ke-cowok-an saya, ini adalah penodaan gender. PENODAAN!

Akhirnya, saya bilang ke mereka, “Oke, aku ikut!”

Dan tepuk tangan pun bergemuruh (bohong).

Lima belas menit dari tempat makan jagung bakar, kami tiba di “Rumah Hantu” yang berlokasi di daerah Babarsari, Seturan, Yogyakarta. Yang menjadi identitas ke-hantu-an dari rumah hantu tersebut ialah di bagian depan terdapat papan besar bergambar kuntilanak disertai tulisan-tulisan bermotif Chiller (tulisannya apa saya lupa). Juga pagarnya yang total hitam, gelap. Ya, hitam dan kegelapan selalu identik dengan setan.

Dan, yang menjadi penanda komersial dari rumah hantu itu adalah tepat di “teras” berdiri sebuah stan berketerangan “Loket Tiket”.

Ketika baru saja sampai dan memarkir kendaraan persis di samping rumah hantu itu, kami disambut jeritan sangat keras yang berasal dari dalam rumah hantu. Jeritan itu bervokal laki-laki, begitu keras, begitu membahana. Dan sangat jelas merupakan jenis jeritan orang sedang ketakutan.

“WWGHHUUAAAA... WHUAAAAA... WGHHUUAAAA!!!” begitulah suara jeritan yang terdengar. Jeritan itu terdengar tidak hanya satu kali, tapi berkali-kali.

“Itu suara cowok, Feb.” saya langsung memasang tampang cemas.

“Iya, gila. Cowok aja sampai jerit gitu.” tanggapan Febri membuat saya semakin horor.

Mampus.

Kami berlima saling bertukar pandang dalam hening. Saya artikan ini sebagai situasi saling lempar pertanyaan batin ‘Gimana? Mau lanjut?

Tiba-tiba terdengar celetukan, “Kalau nggak berani mending gak usah masuk.”

Kami celingukan mencari asal suara itu. Ternyata, itu mas-mas tukang parkir. Mungkin, dia menangkap gelagat ketakutan kami.

Saya bertanya kepadanya, “Emang serem banget, Mas?”

“Banget," Masnya berkata mantap, "soalnya di dalam situ ada hantu yang asli.”

“Serius, Mas??”

Tenanan, Mas, aku ra ngapusi (terjemah: beneran, kakak, saya tidak bohong).” Si Mas-mas tukang parkir lebih terkesan menakut-nakuti daripada memberi informasi. “Nanti kalau Mas masuk, terus ketemu hantu yang nakut-nakutin, itu hantu palsu. Tapi kalau Mas ketemu hantu yang diem aja, itu hantu asli.”

Ada hantu asli... mampus kuadrat.

“Tuh, ada setan asli. Ayok lah kita balik aja.” saya mencoba menularkan ketakutan saya ke kawan-kawan agar mereka membatalkan niat untuk masuk ke rumah hantu.

“Aduh, Mi,” sahut Febri, “nanggung banget kita sudah sampai sini masak yah mau balik lagi. Ayok lah lanjut!”

“Iya, rugi banget kalau harus balik lagi.” Si Boru yang dari tadi diam angkat bicara.

Kami berembug sesaat. Kemudian, sebagai pertimbangan, kami memutuskan menemui pengunjung yang sudah masuk ke dalam. Kami ingin melihat bagaimana kondisi, reaksi, dan ekspresi orang-orang yang sudah memasuki ‘kediaman’ para hantu itu.

Di rumah hantu itu hanya terdapat dua pintu: pintu masuk dan pintu keluar. Di pintu masuk terlihat antrean cukup panjang dari pengunjung yang hendak masuk. Sedangkan di pintu keluar, terlihat setiap beberapa detik, empat sampai lima orang keluar dengan muka memerah, keringetan, ngos-ngosan, berjalan terseok-seok, tetapi tertawa-tawa. Semua yang keluar pasti tertawa-tawa.

“Mereka hepi-hepi aja itu.” Beta berkomentar.

Saya terheran-heran. Apa yang mereka tertawakan?

Penasaran, kami ‘mewawancarai’ salah seorang pengunjung laki-laki yang baru saja keluar. Sambil tertawa dan ngos-ngosan si pengunjung ini bilang, “Gak menakutkan. Biasa saja. Cuma panas, sama pengap di dalem.”

Masih sambil mengatur napas, si pengunjung ini melanjutkan, “Ini aku malah sempat foto sama pocongnya. Sebenarnya sih gak boleh, foto-foto di dalam, tapi aku nekat aja.”

Dia lalu memamerkan fotonya berpose bersama pocong.

Pocong itu berwajah putih pucat dengan bagian sekitar mata berwarna hitam sehingga membuatnya terkesan melotot, dan dari matanya mengalir air mata darah. Di mulutnya terdapat bercak-bercak darah seperti habis makan orang. Yang aneh, ekspresi wajahnya datar sedatar-datarnya.

“Pocongnya unyu,” ujar si pengunjung.

“Oh iya.” saya menanggapi sekenanya (dalam hati: UNYU? EMANGNYA AFIKA??? INI SEREM, MONYET!!).

“Iya, unyu. Pocongnya ini diem aja sih.” lanjut si pengunjung.

“Hah??” saya tercengang (dalam hati: ITU SETAN ASLI!!!).

Saya pasti bakal menjerit histeris jika bertemu pocong ini.

Kami berlima berembug kembali. Febri dan Boru malah semakin penasaran untuk masuk. Chicha dan Beta yang awalnya bersemangat mendadak loyo (terutama setelah mendengar jeritan tadi), tetapi masih penasaran untuk masuk. Sementara saya, saya paling bernafsu untuk kembali pulang. Namun, apalah daya golongan minoritas. Saya yang tak memiliki mitra siapa-siapa ini, harus mengikuti kemauan golongan mayoritas: masuk ke rumah hantu.

Tiket pun dibeli. Ini berarti, saya wajib menyiapkan pita suara se-fit mungkin agar bisa menjerit sekencang-kencangnya. Dan, saya baru sadar. Suara saya termasuk kategori ‘cempreng’ level parah. Kalaupun saya menjerit, suara yang keluar pasti lebih seperti jeritan remaja putri menonton konser Suju.

“Mi, nanti kamu depan ya?!” Febri memberi instruksi. Dia lalu menjelaskan bahwa rumah hantu itu dalamnya berbentuk lorong sempit yang hanya bisa dilalui satu orang. Karena itu, pengunjung yang hendak masuk harus dibagi ke dalam suatu rombongan. Per-rombongan maksimal terdiri atas lima orang. Lima orang tersebut harus berjalan berurutan dari depan ke belakang. Jadi, kami berlima akan berjalan beriringan ibarat rangkaian gerbong kereta api. Untuk kasus kami: ibarat gerbong kereta api ekonomi peninggalan Belanda, lebih tepatnya.

Sekali lagi, minoritas (cowok sendiri) harus mengalah, dan saya pun menjadi gerbong paling depan.

Kami mengantre di depan pintu masuk. Perjalanan yang mendebarkan akan segera dimulai.

Di sini, saya bingung mempersiapkan reaksi ketakutan seperti apa yang pantas saya ekspresikan. Apakah saya harus menjerit selepas-lepasnya? Atau menahan jerit agar terlihat elegan? Hal ini menjadi penting saya pikirkan karena ini menyangkut harga diri saya sebagai laki-laki di mata perempuan. Walaupun, saya sadar betul sedari awal saya sudah tidak punya harga diri di mata kawan-kawan saya ini. Tetapi, posisi sebagai lelaki satu-satunya menuntut saya untuk selalu tampil paling berani dalam situasi apapun.

Mampukah saya melakukannya?

Tunggu postingan selanjutnya...

Selasa, 22 Mei 2012

BANGKIT DARI KUBUR

Whoaahhh... saya berasa baru bangkit dari kubur... lama sekali blog ini gak di-update.

Kasihan sekali blog ini. Gak keurus, gak diperhatiin, gak dikasi makan, gak dinafkahin. Aduh, udah kayak istrinya bang toyib aja ini blog... jarang dibelai. Maaf yah, blog. Maafkan majikanmu ini. *pelukan (sama laptop).

Mohon maaf sedalam-dalamnya juga untuk (segelintir) teman-teman yang udah sering (kesasar) mengunjungi blog ini, dan menunggu-nunggu kapan blog ini dibakar di-update. Terima kasih sudah menunggu, dan sekali lagi mohon maaf. *pelukan (sama laptop. Lagi).

Okeh, sudah cukup kangen-kangenannya. Sekarang, kita masuk ke pembicaraan inti, yaitu.......... curcol.

Mehehe.

Ide dasar pembuatan blog ini emang sebagai tempat curhat. Jadi, harap maklum ya kalau tulisan-tulisan di sini sangat depresif (dan agak kebencongan-bencongan) :D

Terima kasih.

***

Ehem,

Yang jadi kambing hitam kenapa blog ini gak keurus adalah TUGAS-TUGAS KULIAH. Atau lebih tepatnya: TUGAS-TUGAS KULIAH YANG ADUHAI BANYAK SEKALI.

Betul sodara-sodara, menginjak semester IV ini saya mulai kerap dihajar, disiksa, dianiaya, sampai dikebiri, oleh tugas-tugas dari bapak dan ibu dosen. Setiap hari kerjaan saya hanya duduk-ngadep-laptop-ngerjain-tugas, duduk-ngadep-laptop-ngerjain-tugas. Sampai-sampai saya lupa caranya berdiri. Hohoho. Tetapi yang aneh, saya justru menikmatinya. Nah lho?

Meskipun sering kali saya mengeluh dan mengeluh tentang tugas yang dikasih dosen, tapi tetap saja saya mengerjakan tugas itu (walau dengan perasaan berat). Yeah, ini demi target IP 3,5 biar bisa mengangkat IPK yang melorot (sampai telanjang) di semester kemarin. Di semester IV ini, hampir tiap minggu ada tugas bikin makalah, revisi makalah, sampai “mencari masalah”. Banyak deh. Disebutin semuanya juga saya yakin kamu yang baca ini gak mudeng, ya kan? Yang mudeng hanya anak-anak Sastra Indonesia UGM angkatan 2010. Hehe.

Oh ya, ngomong-ngomong, buat kamu yang baru (nyasar) ke sini dan belum kenal dengan saya, perkenalkan nama saya Fahmi dan saya cowok. Cowok normal, tepatnya. Saya mahasiswa SastraIndonesia UGM, dan baru semester 4 pas nulis ini. Jangan tanya kuliahnya tentang apa. Pokoknya jangan. Di kampus, saya termasuk mahasiswa yang sangat sangat tidak terkenal. Coba saja kamu main ke kampus FIB UGM, kemudian nanya orang lewat, “Mas, kenal Fahmi gak?”

Pasti orang itu bakal ngejawab, “Ooh, Fahmi yang gak terkenal itu ya?”

Oke, kembali ke leptop.

Jadi karena kebanyakan ngerjain tugas itulah akhirnya saya tidak bisa membagi perhatian sama blog ini. Bahkan, pacar saya pun sampai terpaksa saya telantarkan. Karena saya emang gak punya pacar. Mehehe. (dalam hati: Oh Tuhan, kenapa saya jomblo terus? Kenapa, hah? Kenapa?)

Ehm, maaf, kalo ngomong pacar saya suka kelepasan.

Sampai mana tadi? Tugas, ya? Yak, jadi intinya fokus perhatian saya belakangan ini adalah TUGAS KULIAH. Dalam skala prioritasku saat ini, “Tugas Kuliah” menempati posisi kedua, tepat di bawah “Mencerdaskan Anak Bangsa”.

Saya nulis postingan ini sesungguhnya juga merupakan “murtad” dari ngerjain tugas. Harusnya saya lebih meluangkan waktu untuk ngerjain tugas daripada nulis gak jelas kayak gini. Tapi, kenapa saya tetep nulis ya?

Ya, itulah misteri Ilahi.

Misteri lainnya adalah kenapa nilai-nilai kuliah saya selalu berantakan, amburadul, gembel, lusuh, compang-camping gak karuan. Mirip sama muka saya. Padahal, saya sudah merasa cukup serius dalam belajar. Saya juga sudah berusaha cukup maksimal. Tetapi nilai saya tetap jelek (kayak muka saya). Itu merupakan misteri yang belum bisa saya pecahkan sampai saat ini.

Kecuali masalah kebanyakan tugas, hidup saya selebihnya berjalan normal-normal saja. Saya masih makan nasi, masih suka nonton tivi, dan masih pipis jongkok. Biasa saja.

Well,
Begitulah sodara-sodara... baru ini yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini. (habis mencet "post" langsung lanjut ngerjain tugas... hoho)

Sampai ketemu di postingan selanjutnya.. :) *cipika-cipiki (sama laptop)

Minggu, 01 April 2012

Crazy Things


Kreatif dengan Gila adalah dua hal yang beda tipis...


Aku inget di SMA-ku dulu, ada kejadian seorang siswa diseret-seret secara paksa ke tengah lapangan basket oleh beberapa siswa lain. Siswa yang diseret meronta-ronta sekuat tenaga berusaha melepas cengkeraman siswa lain yang menyeretnya. Maling helm, aku menebak.

Kemudian, siswa yang diseret-seret itu “disiksa” rame-rame. Dia diguyur air secara brutal, kepalanya dikeprokin pake telor mentah, badannya ditaburin tepung. Setelah itu, siswa-siswa yang tadi menyeret-nyeret dan menyiksa bernyanyi Happy Birthday To You...

Maling helm lagi ulang tahun.

Melihat kejadian itu, aku mencibir dalam hati, ”Gila, norak amat! Ulang tahun aja pake acara gituan!

Keesokan harinya, aku menyeret-nyeret seorang temen yang ulang tahun ke lapangan basket. Aku guyur dia pake air, aku keprok kepalanya pake telor, dan badannya aku taburin tepung.

Ternyata, seru juga “menyiksa” temen yang lagi ulang tahun.

Saking serunya, kita-kita yang “menyiksa” jadi sering lupa esensi penyiksaan itu sendiri: untuk memperingati hari lahir. Taunya rame-rame, heboh-heboh, terus seneng-seneng. Dalam kebanyakan kasus, yang disiksa malah lebih seneng.

Aku juga masih inget dulu di SMA, ada temen sekelas ulang tahun, lalu temen-temen lain, termasuk aku, berinisiatif “merayakan” hari jadi tersebut dengan ngebikin bom air. Itu lho, plastik sekiloan diisi air terus diiket ujungnya. Nah, kalo airnya air keran biasa mah gak masalah. Nha waktu itu beberapa plastik diisi..... ehm, air seni. Serius, benar-benar air seni, air pipis. Aku masih ingat betul kejadian itu karena dulu aku ikut nyumbang pipisnya. Mehehe..

Pas pulang sekolah, temenku yang ulang tahun itu dicegat di gerbang, lalu tanpa ampun dilempar jumroh. Bukan pake batu, tapi pake bom air yang sudah disiapkan tadi, yang beberapa diantaranya berisi air pipis. Si temen yang ulang tahun jelas kalang kabut. Dia berlarian menghindari serangan bom air (+pipis) kami, tetapi percuma. Pada akhirnya, teman yang ulang tahun itu pulang dengan baju dan celana basah kuyup sambil menggerundel “Kayaknya aku gak sengaja kencing di celana, deh.... bau pesing.”

Oke, aku tahu itu sangatlah tidak beradab dan sangat tidak bermoral. Tapi, yah, masa SMA adalah masa di mana aku (atau kami) belum mendapat pencerahan. Masa sebelum Renaisans. Belakangan aku sadar ternyata sampai sekarang pun aku masih belum mendapat pencerahan, kulitku saja masih gelap.

Selepas lulus SMA, dan sekarang jalan semester empat kuliah, aku nggak pernah lagi melakukan “penyiksaan” ulang tahun tersebut. Kebiasaan brutal itu perlahan mulai aku tinggalkan karena merasa itu terlalu childish. Setidaknya, sampai bulan Maret 2012 ini.

***

Aku kembali merindukan “penyiksaan” itu saat salah seorang teman dekatku di kampus, Shera, ulang tahun. Sehari sebelum ulang tahunnya Shera tiba, aku sudah merencanakan ritual “penyiksaan” tersebut di rumah Adis, teman dekat yang lain.

“Pokoknya, besok Shera harus disiksa, Dis.” kataku, memprovokasi Adis.

“Siksa gimana? Siram pake air?”

“Kalo pake air doang mah udah biasa, gak asik, kurang seru.” Aku lalu ingat masa SMA. “Dulu pas SMA aku pernah nyiram temen yang ulang tahun pake air pipis. Seru lho!”

“IDIH!!!” Adis tersentak dengan ekspresi muka jijik, seolah membayangkan bagaimana caranya aku dan temen-temen SMA-ku dulu mengumpulkan air pipis untuk nyiram orang. “NAJIS BANGET!!”

“Iya, emang. Air kencing kan emang najis.”

“Bukan itu maksudku, dodol. GAK MUNGKIN ya kita nyiram temen sendiri pake pipis.”

“Iya, sih.” aku mengangguk. "Aku juga lagi gak kebelet pipis, kog."

"Aku gak peduli sama pipismu," ucap Adis tak acuh. “Oke, terus enaknya siram pake apa?”

Aku berpikir sejenak, lalu menemukan ide brilian. Dengan suara meledak aku bilang ke Adis “AHA! PAKE AIR AKI!!”

Aku diusir ke luar.

Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya kami menemukan “ramuan” yang tepat untuk “merayakan” ulang tahun teman kami. Ramuan yang sangat cucok untuk diguyurkan ke orang yang ulang tahun. Aman, tidak berbahaya, dan tidak bau pesing. Dan yang pasti ramuan itu bukanlah kombinasi air seni dan air aki.

Ramuan itu kami beri nama.......... “TAI MOLTO”.

Eits, jangan salah sangka dulu, ramuan itu tidak seseram namanya. TAI MOLTO memiliki arti:

-         T = Telur
-         A = Air
-         I = Indomilk
-         MOLTO = pewangi pakaian, yang harganya gopek’an, dan bintang iklannya “Andi Molto”.

Jadi, TAI MOLTO adalah singkatan dari Telur, Air, Indomilk, dan Molto. Keempat bahan itu dicampur menjadi satu dalam satu botol dan seketika menjadi ramuan yang menakjubkan.

Ya, saya memang jenius (dan sangat tidak kreatif dalam pemberian nama).

Campuran telur, air, indomilk, dan molto, memberikan aroma yang sangat khas. Ada semerbak wangi dari molto, amis dari telur, dan tentunya, ada kesegaran alami dari indomilk.

Berikut penampakan TAI MOLTO:
Niatnya mau dikasih gambar tengkorak, tapi malah kayak gurita berkelamin ganda
Aku gak tahu reaksi apa yang akan terjadi jika semua campuran itu tumplek di rambut orang. Mungkin, rambut orang itu akan berevolusi jadi Medusa. Atau mungkin lebih parah lagi, rambut orang itu akan berevolusi jadi Anggun C Tsasmi, terus jadi bintang iklan Pantene.


Keesokan paginya, bersama dua orang teman lain, Adis dan Devita, kami menyatroni rumah Shera. Tentu saja kami ke sana tanpa sepengetahuan empunya rumah. Tujuan kami adalah ngasih Surprise  (+siksaan), dan berikut rencana kami : mengetuk pintu rumah, si Shera keluar, kita bekap dia dari belakang, kita seret dia ke lapangan basket, kita keprokin palanya pake telor, terus kita siram dia pake ramuan yang telah disiapkan. Pasti seru abis.

Namun, rencana itu kami urungkan karena lapangan basket yang paling dekat dengan rumahnya Shera berjarak 5 kilometer. Nggak mungkin kan kita menyeret-nyeret anak orang sejauh itu?

Akhirnya, operasi ala kadarnya pun dimulai.

Si Adis ngetuk pintu rumahnya Shera. Lima detik, gak ada jawaban.

“Ketuk lagi, Dis!” aku memberi instruksi.

Adis mengetuk lagi. Tetep gak ada jawaban. Adis mengetuk untuk ketiga kalinya. Dan tetep tidak ada jawaban.

“Coba sekali lagi,” aku terus memberi dorongan. “Kalo masih gak ada jawaban, kita robohkan saja pintunya!”

“Mi,” Devita angkat bicara, “kita mau ngasih Surprise, bukan mau nangkap teroris.”

Aku ngebayangin, aku mendobrak pintu rumah Shera, dan setelah pintunya berhasil roboh, aku akan menerabas masuk sambil bawa-bawa botol ramuan TAI MOLTO sebagai alat pengintimidasi pengganti pistol, kemudian aku akan berteriak kencang “MENYERAHLAH KAU, KEPARAT!! KAU SUDAH DIKEPUNG!!”

Oke, aku ngelantur.

Sementara Adis terus mengetuk pintu, aku menyiapkan amunisi: sebutir telur mentah di tangan kanan, dan sebotol besar ramuan TAI MOLTO di tangan kiri.

Setelah beberapa ketukan dan menunggu beberapa menit, akhirnya Shera keluar juga. Begitu melihat kami bertiga, Shera terlihat agak kaget. Shock Therapy kami berhasil. Kemudian, Shera lebih kaget lagi ketika tiba-tiba Adis menarik lengannya.

“Eh apa-apaan ini?!” protes Shera. Jelas, dia tidak siap menerima serangan mendadak yang dilancarkan Adis. Refleks, dia berusaha melepas cengkeraman Adis.

“Cepetan, Mi!” Adis menginstruksikan.

Aku langsung mengerti perintah Adis. Tanpa membuang waktu dan tanpa membuang celana (NGAPAIN BUANG CELANA??), dengan satu gerakan cepat aku “membuang” sebutir telur tepat di kepala Shera.

Tumbukan antara batok kepala dengan sebutir telur mentah menghasilkan bunyi yang syahdu sekali.

PROKKK!! Telurnya pecah, dilanjutkan erangan “AAAARRGGGHH... APA-APAAN INII??!!”

“Aernya, Mi! Cepetan! Aernya!!” suara Adis terdengar tak sabar. Tampaknya Adis terlalu berlebihan melakoni perannya megangin Shera. Sampai-sampai dia lebih terlihat seperti sedang megangin sapi kurban hendak disembelih.

Kembali, tanpa buang waktu dan buang celana (tetep), aku siramkan ramuan TAI MOLTO ke kepalanya Shera.

Sejujurnya, aku sangat pengin menikmati setiap detik pengucuran ramuan itu, biar berasa kayak lagi siraman tujuh bulanan. Sayangnya, Shera terlampau liar. Dia benar-benar seperti sapi kurban hendak disembelih. Berontak ke mana-mana.

Karena Shera gerak-gerak terus, aku gak bisa membidik dia dengan akurat. Akhirnya, aku menggunakan jurus kepepet: membabi buta. Dengan satu gerakan singkat aku siramkan ramuan TAI MOLTO itu ke arah Shera yang berjarak satu meter denganku. Alhasil, ramuan itu pun habis dalam satu siraman dan tidak semuanya kena ke badan Shera. Sangat disayangkan.

Shera sempat menghindar, tetapi rambutnya tetap kena. Sedikit beruntung dia, tidak semua ramuan TAI MOLTO tumpah di kepalanya. Cukup banyak ramuannya yang terbuang sia-sia ke lantai.

Meskipun begitu, aku sudah cukup puas. Aku bisa melihat kepala Shera dipenuhi lendir putih telur. Rambutnya juga jadi wangi molto. Efek sampingnya kayak apa, aku gak tau. Bisa jadi seminggu kemudian Shera jadi botak, atau malah rambutnya jadi panjang terus nyambung sama bulu pantat.

Setelah pergumulan memalukan itu selesai, kita bersih-bersih. Ketika hendak membuang botol yang tadi dijadikan tempat ramuan TAI MOLTO, tiba-tiba saja aku mendengar bisikan jahat. Di botol itu masih tersisa lendir-lendir putih telur.Aku melihat Shera sedang ngobrol sama Adis.

Botol ini harus habis, pikirku dengan botol di genggaman. Aku pun bergerak mendekati mereka berdua. Dan ketika mereka sudah berada dalam jangkauan tangan, tanpa basa-basi aku tumpahkan sisa-sisa lendir itu ke........., KEPALANYA ADIS.

Jelas, Adis langsung misuh-misuh “AAARRGGH!! SIALAN, FAHMI!! INI KOTOR, BEGO! INI KOTOR! AKU UDAH MANDI, SIALANNN!!”

“KYAHAHAHAHAAHA...” aku ngakak.

Shera ngakak.

Devita ngakak.

Anang Hermansyah juga ngakak.

Hanya Adis yang nggerundel.

Tetapi, semuanya sama... sama-sama bahagia.
Oh, kecuali Anang Hermansyah, dia lagi stres milihin Indonesian Idol.

Oh ya, ini dia foto si korban ulang tahun:

Silakan tebak mana Devita? mana Shera? mana Adis? dan MANA ANANG HERMANSYAH?

***

PS : Di bulan Maret kemarin cukup banyak temenku yang ulang tahun, dan cerita tentang ulang tahun di bulan Maret tidak hanya satu ini.. :)

Senin, 20 Februari 2012

Sepedamania 2 (Dikejar-kejar Gukguk)


Pernahkah kamu tengah malem dikejar-kejar anjing? Kalo pernah, gimana perasaannya? Pasti ANJING banget kan?

Nah, midweek kemarin aku ngalamin kejadian itu, tengah malem dikejar-kejar anjing. I mean it.

***

Rabu (15/2) tengah malem, aku dan beberapa temen bersepeda keliling Jogja. Ya, belakangan ini aku emang lagi doyan banget sama yang namanya maen sepeda tengah malem. Menikmati Jogja dini hari. Enak aja rasanya ngeliat jalanan yang biasanya rame mobil sama motor jadi sepiiiiiii banget. Aku paling seneng ngeliat jalanan kota yang sepi. Karena jalanan jadi berasa milik nenek kita. Kita bisa bebas guling-gulingan di tengah jalan tanpa takut kelindes Transjogja (karena gak ada Transjogja lewat jam 12 malem). Dan ya, ngeliat jalanan yang sepi gitu, aku langsung aja tiduran sambil guling-gulingan di tengah jalan. Serius. Asik loh.

Bukan, saya bukan korban perkosaan angkot

Posisi favoritku: tidur terlentang di tengah jalan terus ngeliat bulan di langit.

Sok mikir, sok sweet, sok imah

Biasanya kalo udah gitu, temen-temen bakalan pada mencemooh. Ada yang ngatain norak lah, katrok lah, gila lah, bahkan ada yang bilang “Astaghfirullah”. Dan seperti biasa juga, aku gak peduli. Mehehe.

Oke, balik ke cerita..

Kemarin itu aku sepedahan bersama 5 temen bernama Dedi, Imam, Dian, Affan, dan Da’im. Malam itu kita sepedahan dengan Bandara Adi Sutjipto sebagai tujuan akhirnya. Biasanya paling cuman ke alun-alun selatan.

Sewaktu mulai masuk ke area bandara Adi Sutjipto, posisiku berada di urutan kedua dari belakang. Di depan ada Dedi, Imam, Affan, dan Da’im. Sementara Dian di belakangku. Jarak antara aku dengan keempat pembalap di depan cukup jauh. Ada kali 30 meter. Dian di belakangku juga cukup jauh.

Masuk ke Bandara sepertinya akan mudah dan menyenangkan.

Yah, sepertinya.

Tanpa ada firasat apapun, tiba-tiba dari depan terdengar lolongan “gukguk” yang sangat horor. Model suara anjing penjaga malem ngeliat penjahat. Seketika itu pula keempat temen di depanku memutar balik sepeda mereka, lalu berceceran menuju ke arahku. Di belakang mereka terlihat dua gumpalan bulu berwarna coklat dan putih bergerak cepat dan liar seperti mengejar keempat temenku itu. Oh, bukan ‘seperti’, tapi dua gumpalan bulu itu ‘memang’ mengejar temen-temenku.

Lolongan gukguk-nya kenceng banget.

Aku berhenti mengayuh sepeda.

Hanya sekejap saja keempat temenku itu sudah mendekat ke tempatku berhenti. Semuanya memasang tampang panik. Imam, yang berada paling depan di antara empat orang itu, dengan muka yang sangat panik berteriak ke arahku “ANJING!! AWAS, ANJING!!!”

Aku bengong.

Aku gak ngerti apakah Imam sedang MENGINFORMASIKAN bahwa ada “anjing” lalu menyuruhku untuk “awas”, atau dia sedang MENGGERTAK supaya aku tidak menghalangi jalannya. Aku gak ngerti. Tapi yang pasti saat itu pula aku ikutan muter balik, lalu ikutan memasang tampang panik.

Baru aja aku sempurna memutar sepeda, si Imam yang paling kenceng (dan paling panik) mendahuluiku sambil terus teriak “ANJING AWAS ANJING!!!”

Suara gukguk-nya semakin terasa dekat.

Aku langsung teringat teori tentang cara selamat menghindari serangan binatang buas, yaitu: “Kamu tidak perlu berlari lebih cepat dari binatang itu, kamu hanya perlu berlari lebih cepat dari teman kamu.

Dan Imam baru saja mempraktekan teori itu.

Ini berarti: MAMPUS GUE!

Sekilas aku noleh ke belakang, Dedi dan Da’im berhasil menghindari kejaran si gukguk dengan nyungsep ke trotoar. Affan yang berada di tengah jalan masih dikejar-kejar satu anjing. Anjing yang satunya, berlari ke arahku.

“AAAAAAAAAAAAARRRGGGHHHH!!!!” aku jerit, lalu menggenjot pedal sepeda sekenceng mungkin. Secepat mungkin.

Apa daya, mengingat kekuatan fisikku yang sangat lemah, aku gak yakin bisa selamat dari kejaran anjing ini. Sempet kepikiran untuk berhenti saja, menjelaskan bahwa aku bukanlah maling lalu nyerahin sepeda sebagai jaminan. Pulang jalan kaki gak papa deh, asal gak digigit. Namun, aku sangat sadar bahwa anjing bukanlah makhluk yang bisa diajak kompromi. Lagian, NGAPAIN JUGA NGASIH SEPEDA KE ANJING???

Raungan si anjing semakin menjadi-jadi.

Oh Tuhan, tolong hentikan anjing ini.

Aku gak mau mati digigit anjing. Aku gak mau mati digigit anjing. Aku gak mau repot mandi pake pasir.

Mantra itu menjadi semacam Extra Joss yang membuatku cukup kuat dan kencang mengayuh sepeda.

Setelah kejar-kejaran sampai sekitar 100an meter, akhirnya dua anjing kunyuk itu berhenti mengejar.

Kami menang.

Kami semua ngos-ngosan.

Aku nangis bahagia.

“Hhh.., hhh.. hhhh..” hanya suara napas tersengal-sengal yang keluar dari mulut kita ber-enam untuk beberapa saat.

“Kampret itu anjing.” kata si Imam kesal. Saking keselnya dia sampe lupa bahwa kampret dengan anjing itu dua spesies yang berbeda.

H-iyo, h-asu tenan.” aku nambahin masih sambil ngos-ngosan.

Aku baru tau kemarin itu kalo di bandara ternyata suka dijaga anjing kalo malem. Eh, gak tau juga sih apakah itu emang anjing penjaga atau cuman anjing iseng. Atau, apa karena muka kami yang kriminal sehingga menarik nafsu anjing-anjing itu buat ngejar? Gak tau juga. Yang jelas anjing itu hampir membuat jantungku copot.

Setelah suasana mulai kondusif, jantung kembali berdetak normal, kita semua lalu...., tertawa rame-rame. Kita menertawakan kebodohan kita masing-masing.

“Kita kayak maling, sumpah.”

***

Sebelum pulang, kita sempet foto-foto di depan jalan masuk bandara. Tapi hanya foto pake hape, jadi hasilnya jelek (orangnya juga jelek). Tapi gak papa, ini aku mau pamer foto (jelek) kami:

TKP

Bergaya setelah dikejar anjing

Dari kiri ke kanan : Affan, Imam, Fahmi, dan penampakan

Biasanya, setelah capek sepedahan, kita kongkow-kongkow bentar di angkringan atau warung burjo 24 jam, atau sesekali ke Mekdi. Pada ngobrol-ngobrol yang NGGAK berkualitas. Tapi seru. Paling pewe kalo di warung pinggir jalan, gelar tiker di trotoar, lanjut tiduran. Asik loh. :D

Kadang aku juga suka bawa-bawa netbook, biar kalo ada kejadian menarik (atau horor) bisa langsung aku tulis kayak gini. :D

Padahal lagi gak pake celana



Oke, segitu dulu. Sampai ketemu di postingan selanjutnya.. :)