Jumat, 11 November 2011

Goes to UI (Part II)


Lanjutan dari postingan goes to UI....
***
Setelah sesi kedua yang temanya “Jenaka Berbahasa” dengan pembicara Ibnu Wahyudi S.S, M.A, (dosen Prodi Indonesia, FIB UI) selesai, acara lanjut penutupan simposium sekaligus penarikan kesimpulan. Semua peserta disuruh, eh nggak disuruh denk, tapi diajak, ya diajak menarik kesimpulan dari apa yang telah didapat selama dua hari simposium.
Dari panitia sendiri (UI) sudah membuat rumusan kesimpulannya, kemudian dibagikan ke seluruh peserta, dan peserta dimintai tanggapannya. Moment-moment seperti ini selalu menjadi ajang unjuk mulut (bukan unjuk gigi lagi) bagi orang-orang yang doyan ngomong. Buat aku sendiri, berhubung aku orangnya pendiam dan cool (baca: gagap kalo ngomong di depan umum) maka aku lebih banyak diemnya.
Dan beneran aja, begitu moderator membacakan rumusan simpulan point pertama, banyak banget peserta yang angkat tangan. Ini bunyi point pertama:
  1. Bangga berbahasa Indonesia berarti bangga dan percaya diri menjadi orang Indonesia, mampu mengenal kelebihan dan kekurangan, dan tidak berhenti menggali potensi bangsa melalui bahasa Indonesia.
Dari beberapa peserta yang angkat tangan dipilih satu orang oleh moderator untuk diberi kesempatan bicara. Kalo yang nggak dapet Kesempatan, diberi Dana Umum. Peserta yang mendapat kesempatan itu aku udah lupa namanya siapa dari universitas mana, tapi pendapatnya aku masih ingat. Sebut saja dia “Mawar”, meskipun dia cowok.
Si Mawar bilang:
“Bla bla bla.... Saya kira kata ‘mengenal’ lebih baik diganti ‘mengetahui’. Karena berdasarkan notulensi kami, kemarin Bu Sis (Dr. Felicia, pembicara hari pertama) juga menggunakan kata “mengetahui”. Jadi menurut kami sebaiknya redaksionalnya perlu diganti”
Aku hanya bisa mendengarkan sambil berpikir “notulensi itu apa ya?”.
Moderator langsung menanggapi (dengan keren):
 “Yak, terima kasih atas tanggapannya. Oke, sekarang gini, teman-teman semua tahu Mas Iben?”. Tanya moderator ke semua peserta. Mas Iben adalah nama panggilan Ibnu Wahyudi, pembicara terakhir tadi.
“Tauuuuu” jawab sebagian besar peserta, kompak.
“Terus, apakah kalian kenal dengan Mas Iben?”
“Tidaak” jawab peserta terdengar agak ragu. Aku sendiri juga bilang ‘tidak’, tapi lirih.
“Nah, sekarang tahu bedanya ‘mengenal’ dengan ‘mengetahui’?”
“Tauuuu” peserta kembali kompak. Aku diem, masih mikir. Mikir notulensi sama mikir perbedaannya ‘kenal’ dengan ‘tahu’.
“Jadi lebih tepat yang mana?”
“Mengenaaaaal”
Aku masih diem. Masih berpikir. Sampe akhirnya: aaaahh, geblek. Aku tau bedanya.
Aku nangkep, kata mengenal dirasa menunjukkan suatu hubungan yang lebih dekat daripada kata mengetahui. Contoh simpelnya seperti ini: antara aku dengan Maria Ozawa, aku tahu tentang dia, tapi aku nggak kenal. Intinya adalah: tahu dan tempe sama-sama dari kedelai...*ngaco. Intinya tu “Tahu belum tentu kenal, tapi kenal sudah pasti tahu”. Hubungannya dengan point pertama di atas adalah bahwa kita diharapkan lebih mengenali bahasa kita sendiri (Bahasa Indonesia), tidak hanya sekedar tahu.
Point pertama: Beres.
Ya, aku pikir point pertama sudah beres. Ee gak taunya ada peserta lain yang angkat tangan terus bilang gak setuju. Dia lebih setuju dengan kata “mengetahui”. Dia pro dengan si Mawar. Jadi sebut saja dia Melati, meskipun dia cowok juga.
Malangnya si Melati, pendapat dia tidak diamini oleh moderator. Tapi si Melati agak ngotot. Berbagai argumen dia keluarkan untuk mendukung si Mawar. Akhirnya moderator memutuskan untuk voting. Hasil voting menyatakan kubu Mawar kalah. Lalu mereka walk out dan memutuskan bergabung dengan Nasional Demokrat. Oke, kalimat terakhir aku bercanda.
Keputusan tetap pada kata “mengenal”.
Ketika mau lanjut ke point selanjutnya, ada seorang peserta cowok angkat tangan.
“Interupsi!” katanya agak lantang di depan mikrofon.
“Maaf, saya tidak setuju dengan voting!", dia menarik napas sebentar, lalu melanjutkan . "Kenapa kami jauh-jauh datang ke UI ini kalo akhirnya harus voting?! Saya rasa kita harus membahas redaksional ini lebih jauh. Biar jelas semuanya sampai ke hal-hal yang kecil. Bahkan kalo harus sampe tengah malam pun kami siap!” katanya lagi berapi-api.
Aku dalam hati tereak-tereak “WOY!! JANGAN BAWA-BAWA KAMI DONK!! SAYA NDAK SIAP SAMPE TENGAH MALEM DI SINI. DI SINI BANYAK NYAMUK!!”
Heran. Semangat sama napsu gak ada bedanya.
Hal selanjutnya yang aku tau adalah acara jadi ribet gara-gara kata “mengenal” dan “mengetahui”. Tambahheran.com.
Aku pun lebih memilih diem, lalu nulis ini di buku catatan kecil a.k.a blocknote:
Font= Cakar Ayam

Hasil kesimpulan Simposium bisa dilihat di sini.
***
Setelah perdebatan yang hampir menjurus ke bacok-bacokan itu selesai, acara lanjut membahas langkah konkret yang akan dilakukan selepas acara simposium berakhir.
Moderator membuka sesi berpendapat. Seperti biasa, tangan-tangan pada berhamburan di udara. Ada yang usul bikin blog yang isinya tentang ke-Indonesia-an, ada yang usul bikin acara lomba menulis tingkat nasional, ada yang usul acara simposiumnya diadain rutin, dan yang paling bikin gemes: ada yang usul ngebahas “mengenal-mengetahui” lagi (What the...). Semua pendapat dari setiap peserta aku dengerin dengan seksama. Aku coba analisis. Dan aku perhatikan, sepertinya ada yang salah. Aku merasa ada yang kurang. Aku merasa semua usul tersebut tidak akan terlaksana jika “yang kurang” ini tidak dilakukan. Aha, ini saatnya aku tampil.
Aku cek ketekku, gak basah, lalu aku beranikan diri angkat tangan.
“Yak, silahkan yang dari UGM” kata moderator memberi aku kesempatan untuk ikut bersuara. Aku sempet ge’er dia bisa tahu aku dari UGM, padahal aku belom ngomong apa-apa. Apakah wajahku keliatan intelek? Atau karena wajahku yang ‘rakyat’ banget? UGM kan kampus kerakyatan. Lalu aku sadar, dia tau dari jas almamater yang aku pake. Dia nggak tau kalo itu jas pinjeman. Hehehe.
“Perkenalkan nama saya Fahmi, saya dari UGM” kataku memulai.
“Ee, menurut saya, usul-usul tersebut sudah sangat baik. Hanya saja, saya merasa, usulan itu tidak akan terlaksana, jika kita belum punya wadah. Jadi saya mengusulkan, sebaiknya kita membuat komunitas, atau ikatan, atau, eee, persatuan, terlebih dahulu. Komunitas yang terorganisir maksud saya. Yang sama-sama memiliki kecintaan terhadap Bahasa Indonesia. Sehingga usulan kegiatan yang sudah ada bisa terlaksana. Intinya kita membuat komunitas terlebih dahulu. Sekian usul dari saya, terima kasih”
Aku yakin usulku itu adalah usul yang paling keren (meskipun nyampeinnya gagap). Secara, peserta lain langsung pada usul kegiatan, tapi mereka lupa satu hal: KITA BELUM PUNYA WADAH MEN!
“Terima kasih atas usulnya, mas dari UGM” kata moderator. “Okey, ehm, kalian semua tau IMABSI?”
“TAUUUUU” jawab sebagian besar peserta. Aku hanya diem, karena nggak tau apa itu IMABSI.
Moderator melanjutkan “Ya, jadi kita sudah punya komunitas. Namanya IMABSI, Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Se-Indonesia. Jadi, sepertinya kita tidak perlu membuat komunitas lagi, ya?”
Aku diem.
Malu abis.
Mbak Fitria, kenalan dari UI yang kebetulan duduk di sebelahku, bilang “UGM juga udah jadi anggota kog”
Tambah malu.
Mencoba ngeles, aku tanya ke Arya (temen sesama UGM) “Iya po kita udah masuk ke IMABSI?”
“Iya, udah. Lo gak tau?”
“Hah? Kog aku gak tau?”
Dyah, temen sesama UGM juga, tiba-tiba nimbrung “Ih Fahmi usulnya malu-maluin”
Malumaksimal.com
Usaha untuk terlihat keren: GAGAL.
Jangan ditiru

***
Malemnya, kita ada acara semacam pesta perpisahan. Lebih tepatnya, pesta perpisahan sederhana. Ya, sederhana. Karena cuman di panggung terbuka yang nggak gitu gede. Tapi itu gak jadi masalah. Karena intinya seneng-seneng. Gak ada acara debat-debatan milih kata mengenal-mengetahui lagi.
Nha, tiap-tiap universitas yang jadi peserta diminta untuk nampilin sesuatu. Nggak diminta juga sih. Terserah siapa yang mau tampil ya maju ke depan.
Ternyata pesertanya cukup antusias.
Yang dari Riau (kalo gak salah dari Universitas Islam Riau), tampil ke depan dengan pantun-pantunnya yang kocak.
Yang dari Banten (Untirta), nampilin seorang cewek nyanyi lagunya Citra.
Terus ada yang baca puisi, tapi aku lupa dari universitas mana.
Dari UGM sendiri, ehm, aku yang maju. Aku menampilkan keahlianku maen debus, dengan atraksi berdiri di atas tokai kucing tanpa membuat tokainya penyet. Oke, bercanda.
Eh tapi beneran aku maju ke panggung. Aku nyobain stand up comedy. Hasilnya: LUAR BIASA. Begitu naek ke panggung, belum ngomong apa-apa, aku langsung dilemparin batu sambil ditereakin “LABAIK ALLAHUMMA LABAIK.. LABAIK ALLAHUMMA LABAIK”. Dianggap setan coba. Gembel.
Gak lah. Becanda lagi. Intinya gitu deh, aku sempet maju.
Ini fotoku pas lagi di stand up comedy:
malah kayak bencong
 
***
Hah, gak kerasa ceritanya jadi panjang banget.
Oke oke. Ini penutup.
Overall, acara di FIB UI-nya seru maksimal. Seneng banget bisa dapet kenalan dari berbagai macam daerah di Indonesia. Seneng bisa kenal sama temen-temen dari UI, Undip, Untirta, Universitas Udayana, Universitas Andalas, UPI, Universitas Islam Riau, UAD Jogja, UMM Malang, UNA-SUMUT, UNINDRA, Universitas Negeri Jember, Universitas Muhammadiyah Jember, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, USI-Pematang Siantar, UTM-Magelang, dan Universitas Galuh Ciamis. Semuanya keren-keren.. :)
Seneng juga bisa jalan-jalan ke UI. Oia, ngomong-ngomong soal UI, di sana aku sempet naek “bikun” alias bis kuning. Ya, di sana semuanya serba kuning. Selain bikun, ada juga “jakun”: jaket kuning, terus ada lagi sepeda kuning. Sewaktu ngeliat sepeda kuning, aku nanya ke seorang kenalan dari UI.
Fahmipolos: “Kalo sepeda kuning singkatannya jadi apa?”
KenalanDariUI: “Kalo itu namanya Spekun”
Fahmipolos: “HAH? PECUN?”
KenalanDariUI: “SPEKUN, MI! SPEKUN!”
Fahmipolos: “Ooh”
Aneh, memang. Tapi hal ini justru membuat mataku terbuka. Membuat aku sadar.  Bahwa ternyata, di dunia ini, istilah “kuning” itu tidak hanya digunakan untuk menyebut LELE.


Sebagai penutup beneran, aku mau pamer fotoku bersama temen-temen peserta semua. :D

Hasil Simposium Nasional Bahasa Indonesia di Universitas Indonesia (24/10/2011)


SIMPOSIUM HARI II
Simposium hari II menyepakati rumusan simposium sebagai berikut:
  1. Bangga berbahasa Indonesia berarti bangga dan percaya diri menjadi orang Indonesia, mampu mengenal kelebihan dan kekurangan, dan tidak berhenti menggali potensi bangsa melalui bahasa Indonesia.
  2. Bahasa yang baik dan benar adalah bahasa yang komunikatif tetapi tidak mengubah atau mendistorsi informasi. Bahasa dalam iklan, misalnya, tidak menggunakan ragam baku agar dapat diterima oleh masyarakat.
  3. Sarjana bahasa seharusnya mempunyai pengetahuan yang lengkap akan bahasanya meliputi ragam, laras, dan berbagai dialek.
  4. Tidak ada bahasa yang tidak meminjam kosakata bahasa lain. Oleh karena itu, kita tidak perlu terus-menerus mempermasalahkan pengaruh bahasa asing terhadap bahasa Indonesia. Yang terpenting adalah konsistensi penyerapan bahasa tersebut ke dalam bahasa Indonesia.
  5. Pengajaran bahasa seharusnya ditekankan pada keterampilan penggunaan bahasa di pelbagai situasi. Pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah seharusnya diajarkan secara menyeluruh dan tidak terpisah-pisah dari keempat aspek, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis karena kebutuhan keterampilan lisan dan tulisan.
  6. Mempelajari bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa asing harus menjadi kebutuhan. Bahasa daerah penting untuk berkomunikasi dengan masyarakat daerah, bahasa Indonesia penting untuk berkomunikasi dengan bangsa Indonesia, dan bahasa asing penting untuk berkomunikasi dengan dunia internasional.
  7. Setiap penutur bahasa seharusnya bersifat terbuka terhadap pelbagai bahasa, misalnya bahasa asing, bahasa prokem, dan bahasa daerah yang mampu memperluas pengetahuan penutur bahasa dan menambah khazanah bahasa Indonesia.
  8. Dalam sastra, kita menemukan kreativitas dalam penggunaan bahasa. Jadi, tidak benar bahwa licentia poetica dalam karya sastra merusak bahasa.
  9. Perbedaan utama antara sarjana bahasa dan sarjana lain terutama terletak pada kemampuan menggunakan bahasa secara tertib, dalam arti mampu beralih dari ragam nonformal ke ragam formal atau sebaliknya sesuai dengan konteks situasi.




Langkah nyata yang akan dilakukan:
}  Peserta simposim akan membuat blog mengenai kebahasaan yang difasilitasi oleh UI dengan partisipasi aktif dari mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Indonesia se-Indonesia, terutama peserta simposium ini.
}  Peserta simposium diharapkan dapat menularkan ilmu-ilmu yang sudah didapat dari simposium ini kepada teman-teman di universitas masing-masing dengan pelbagai cara, misalnya membuat seminar atau diskusi terkait bahasa, membuat workshop penulisan, dan mengadakan lomba kepenulisan.



Senin, 07 November 2011

Goes to UI


Voila..

Akhirnya blog’ku ada postingannya juga.. akhirnya.. hahaha..
Gini nih kalo gembel gaya-gayaan bikin blog, gak keurus.

Wokeh,

Pertama-tama, aku mau ngucapin Selamat Hari Raya Qurban. Untuk sapi-sapi dan kambing-kambing yang terpilih saya doakan kalian diterima di sisi-Nya, dan dimasukkan ke surga bersama sapi-sapi dan kambing-kambing perawan lainnya di sana. Amin.

Kedua, aku harus nulis ini: 2 MINGGU KEMARIN AKU KE UNIVERSITAS INDONESIA! UI SODARA SODARA, UI!!!! BHUAHAHUAHAHAHAHA..

Oke, biasa aja.

Ya, bulan kemarin, tepatnya tanggal 24-29 Oktober 2011, aku ke UI. Ngapain? Beli martabak. Gak lah. Kemarin aku ke UI bersama dua temenku bernama Arya dan Dyah untuk mengikuti acara "Simposium Nasional Bahasa Indonesia". Kita bertiga menjadi semacam delegasi dari UGM gitu.

Keren kan aku bisa ikut acara gituan? Padahal, sumpah aku nggak ngerti simposium itu artinya apa. Beneran. Aku baru tau kemarin di UI kalo simposium itu semacam acara seminar. Maklumlah, aku yang biasanya di kampus hanya berhubungan sama perpus, perpus, dan perpus, gak pernah ngerti dunia luar.

Dari Jogja aku berangkat Senin (24/10) subuh berdua sama Arya. Kalo Dyah nyusul berangkat sendiri. Aku sama Arya berangkat pake kereta. Sempet ada adegan lari-lari juga di stasiun Tugu (Jogja) karena kita hampir saja ketinggalan kereta. Btw, taukah Anda sodara-sodara, ini adalah: PENGALAMAN PERTAMA SAYA NAEK KERETA!!! MHUAHAHAHAHA. Oke, santai.

Selama 19 tahun aku menghirup nafas dan kentut, aku belum pernah naek kereta. Kereta api maksudnya. Kalo kereta kencana a.k.a delman sih pernah. Sekali lagi maklumlah, hidupku tu hanya tau soal perpus, perpus, dan perpus. Mungkin besok aku juga bakal kawin sama perpus. Tapi pasti orang tua kita nggak setuju.

Dari stasiun Tugu kita sempet turun di Kutoarjo untuk ganti kereta. Terus dari Kutoarjo kita lanjut dan berhenti di stasiun Jatinegara. Dari Jatinegara kita dijemput oleh temen dari UI untuk selanjutnya di bawa ke hotel melati. Maksudku penginapan.

Oh ya, pas di perjalanan dari Jogja menuju Kutoarjo, subuh-subuh, karena malemnya aku belum tidur, aku sempet ketiduran di kereta.

Ini bukan mayat

Habis itu di perjalanan Kutoarjo-Jakarta, aku sempet sok-sok’an ngerjain tugas. Bosen juga duduk di kereta 7 jam lebih.

Ini aku lagi sok-sok'an

Lanjut,

Hal pertama yang aku notice setibanya di Jakarta adalah: MACETNYA MAKSIMAL. Padahal kemarin kita udah pake sedan, tapi tetep kena macet (ngaruh gak sih?). Pokoknya beda jauh banget sekali sama Jogja. Kayaknya separah apapun macetnya Jogja, tetepan lebih parah macet di Jakarta. Jadi semakin cinta dah sama Jogja, muach.

Dan inilah rangkaian kegiatan yang aku ikutin selama di UI:
1.    
      Hari Pertama (25/10)
Hari Selasa ini aku awali dengan sangat biasa; bangun tidur jam 6, ngumpulin nyawa bentar, terus nabung.
Setelah sarapan nasi goreng yang disediain panitia, kita lanjut ke acara inti hari ini, yaitu simposium #1 dengan tema “Membangun Paradigma Bangga Berbahasa Indonesia”. Acara yang selanjutnya aku tau adalah semacam diskusi panel itu mendatangkan 3 pembicara:
a.     Dr. Felicia Nuradi Utorodewo, direktur QITEP Language, dosen UI.
b.     Dr. Seno Gumira Ajidarma, Sastrawan, dosen UI.
c.    Baty Subakti, konsultan B&B Communications, APMF, advisory Board President.
Dari ketiga pembicara tersebut, jujur aku nggak ada yang kenal sebelumnya. Paling Seno Gumira Ajidarma yang beberapa bukunya ada di perpus FIB UGM. Lainnya aku baru tahu kemarin. Tapi kalo ngeliat ada gelar direktur, sastrawan, apalagi President, aku yakin mereka bertiga adalah orang yang expert, khususnya dalam bidang Bahasa Indonesia.
Banyak banget ilmu yang aku dapetin dari 3 pembicara yang keren-keren itu. Saking banyaknya sampe nggak muat aku masukin ke tas. Salah satu hal yang berharga aku dapetin dari Seno Gumira Ajidarma. Saat bung Seno (sok akrab banget ya?) berbicara, bukannya merhatiin apa yang dia omongin, aku malah merhatiin gaya dia berbicara. Beneran, aku ngamatin banget gayanya dia. Aku amatin, bung Seno ini doyan banget ngomong “ya kan?”. Selama 5 menit aku ngitung bung Seno mengucapkan “ya kan?” sebanyak 28 kali.

Ini buktinya

Sorenya setelah diskusi panel selesai, kita diajak jalan-jalan ke perpustakan UI pusat. Dan setelah mengunjungi perpus pusat UI tersebut, dengan berat hati aku mau bilang “Anying, perpusnya UI keren abess”. Demi apa dah, perpusnya keren banget. Atapnya aja ada lapangan golf. Yah bukan lapangan golf sih, tapi rumput-rumputan gitu. Terus dalemnya men, fvck bagus banget. Kayak mall. Ada liftnya pula. Belum lagi komputer umumnya udah pake Mac semua. Jadi ngiri banget deh pokoknya. Jadi pengen kawin sama tuh perpus. Ini fotonya:


Setelah dari perpus, balik penginapan, terus tewas di kamar masing-masing.
2.     
      Hari Ke-2 (26/10)
Sama seperti hari pertama, agenda inti hari ini juga seminar dengan diskusi panel. Tapi temanya beda. Hari kedua ini di bagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama pagi sampai siang dengan tema “Perlukah Kritik Sastra?”. Kemudian setelah Dzuhur temanya ganti “Jenaka Berbahasa”.
Sesi pertama menghadirkan 2 pembicara:
a.      Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono. Sastrawan, kritikus sastra.
b.      Martin Aleida. Sastrawan.
Aku selalu yakin, siapapun yang udah pake gelar “Prof. Dr.”, pastilah dia “orang pintar”. Dan untuk Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, dia emang orang pintar. Bukunya dia banyak banget di perpus FIB UGM. Tapi aku jarang membacanya. Hehehe.
Di sesi pertama hari ke-2 ini aku melakukan hal yang sama aku lakuin di hari pertama. Yaitu ngamatin gaya bicara. Tapi kali ini aku nggak ngamatin gaya bicara pembicara yang sedang berbicara (mampus, pusing sendiri). Orang yang tidak beruntung aku amatin itu adalah: Mas-mas moderator. Namanya juga diskusi formal pasti ada moderatornya kan. Nha mas-mas moderator ini bentar-bentar ngomong “mungkin”, bentar-bentar ngomong “mungkin”. Aku nyatet, dalam semenit dia mengucapkan “mungkin” sebanyak 6 kali. Jadi misal pas lagi ada peserta yang angkat tangan tanda mau berpendapat, mas moderatornya akan bilang:

“Yak, mungkin yang sebelah sana dulu, silahkan. Mungkin bisa menghidupkan dulu mikrofonnya. Lalu mungkin bisa sebutkan dahulu asal universitas. Dan yak, mungkin langsung saja apa pendapatnya”.

Aku yang gemes sendiri pengen banget ngangkat tangan terus bilang “Maaf mas, mungkin saya bisa gampar you punya pala, boleh?”.
Tapi tentu aku nggak ngelakuin itu, karena tepat semalemnya aku udah kenalan sama mas moderator itu, namanya mas Agung. Dia orangnya asik banget buat ngobrol. Dan pas lagi ngobrol biasa dia nggak pake “mungkin-mungkinan”. Kita juga berasal dari ras yang sama: WONG JOWO.

**************************************************************

To be continued....

Rabu, 05 Oktober 2011

Sasindo Makrab Ceria

Aku nggak ingat kapan terakhir kali aku buka blog’ku ini. Yang aku ingat, terakhir aku cek pengunjungnya adalah 617 (dikit banget ya?). Dan barusan sebelum aku nge-post tulisan ini, aku cek pengunjungnya: 618. Kampret, ternyata yang buka blog ini cuma aku doank. Mengenaskan. Huhu.. tapi gak papa lah. Seperti yang pernah aku tulis, I will keep on writing... entah gimanapun frekuensi postingannya, dan entah berapapun pengunjungnya.

Senin, 18 Juli 2011

broMountain

Tanggal 5 Juli kemarin aku ke gunung Bromo. Yah, lumayan buat ngisi-ngisi liburan panjang kali ini.
Ini adalah kali pertama aku pergi ke sana.
Kesan pertama ketika aku sampai di area wisata Bromo: "ternyata nggak dingin ya?". biasanya kan gunung dingin.
Meskipun aku termasuk orang gunung (Wonosobo termasuk pegunungan), tapi setiap kali ngeliat pemandangan tentang pegunungan aku selalu takjub.
ini baru di lereng



keren gak? keren gak?

tapi pengalaman paling seru di bromo adalah "mandi di tempat parkir terbuka".. sumpah, pas di sana aku sempet mandi di parkiran yang terbuka.. tapi ntar aja ceritanya.. sekarang kejadian pas lagi tawar menawar sama mas-mas kuda, maksudnya mas-mas yang nyewain kuda, bukan mas-mas siluman kuda.. Jadi pas nyampe di pasir berbisik (kayak padang pasir), begitu turun dari hardtop (bener gak nih nulisnya?) kita langsung di hadang sama mas-mas kuda, nawarin kudanya buat dinaikin..dan di Bromo, kalo mau ngeliat "pura" sama kawahnya emang musti pake kuda. Kalo nggak ya jalan kaki juga bisa.. tapi resikonya kaki buntung.. soalnya lumayan jauh juga jarak antara batas paling deket hardtop berhenti sama "pura" dan kawahnya..

MMK (mas-mas kuda) : "ayo mas, kuda mas.. nanggung ke bromo nggak naik kuda"
aku : "berapaan mas?"
MMK : "100 sampe kawah"
BUJUGBUNENG KUDABUNTING LO MAHAL AMAT!! GILA'!! naek kuda 100ribu???? naek delman aja yang udah sekalian supirnya cuma 5 ribu..
tentu yang barusan aku cuma ngomong dalam hati..
aku diem aja..
MMK nawarin lagi : "boleh kurang kog mas", kayaknya dia bisa ngebaca pikiranku.
"jadi berapa?" tanyaku.
"masnya berani berapa?"
walahdalah malah nantang..
"20 mas!" mampus lu gue tawar segitu..
MMK tercengang.. mampus!
"oke, boleh" jawab MMK.
WHAT???? giliran aku yang tercengang.. ni orang sinting juga, dari 100 aku tawar 20 langsung DEAL.. apa aku yang keren nawarnya?
"tapi pulangnya jalan kaki mas" lanjut MMK, kalem.
kampret, aku digarapain..

aku noleh ke arah teman-teman, mau minta bantu nawarin.. eee ternyata temen-temenku juga lagi pada diintimidasi sama MMK yang lain..mereka (MMK yang lain) juga nawarin kuda-100ribu.
aku sama temen-temen rapat mendadak..
hasil akhirnya setelah musyawarah darurat (*tsah..) sama temen-temen, kita mau naek kuda kalo si kudanya mau dinaikin dan dibayar 50, di atas 50 mending nggak..
aku : "penawaran terakhir mas, 50?"
MMK : "wah kalo 50 sampe kawah nggak bisa mas"
aku pun mengeluarkan jurus pamungkas dalam menawar: jurus-yaudah-aku-cari-yang-lain..
aku : "gak bisa nih mas?"
MMK : "....." (mikir)
aku : "yaudah aku cari yang lain aja mas"
MMK : "oke oke mas, 50"
kena deh...
ribet ya mau naek kuda aja..
meski agak mirip, kami bukan saudara


tapi sayang limapuluhribu sayang, pas di jalan mau ke pura dan kawah, BATERE CAMDIGNYA TEMENKU HABIS!! baterenya habis sodara-sodara..baterenya habiss.. maka petualangan menjadi banci-kamera-naek-kuda pun berakhir.. aku cuman dapet foto pas awal naek kudanya..pas jalan ke kawah sama sekali nggak dapet..benci aku.. benci benci benciiiihhhhhh..(bancinya kumat)
sedikit beruntung pas nyampe kawahnya, hape salah seorang temen yang ada kameranya masih idup.. petualangan menjadi banci kamera pun berlanjut.. yeahhhhh..
berikut fotoku lagi di sekitar kawah..oh ya, karena debu yang tebel banget, kawahnya nggak keliatan..
mirip korban Merapi


oh iya aku belum cerita, sehari sebelumnya aku sama rombongan temen-temen kondangan ke Banyuwangi..dan realita yang sesungguhnya adalah, kita pergi ke jawa timur niat awalnya emang mau kondangan itu.. ke Bromonya baru kepikiran pas pulang.. dan pas perjalanan pulang ke jogja, kita mampir ke sana.. dan kenyataan yang tidak bisa ditutupi oleh paradigma atau intuisi rekayasa (ngomong opooo koee??) yaitu: aku cuma bawa baju 1..
hasilnya: aku naik gunung pake baju kondangan..
pake kemeja rapi terus kondangan tentu keliatan wajar... tapi pake kemeja rapih terus naek gunung, keliatan tolol, pake banget...
gaya andalan (tangan masuk saku)

bukan aku saja yang salah kostum, temenku malah ada yang lebih parah, naek gunung pake batik..
mirip sm*sh.. sm*sh kehilangan jatidiri

selain pasir berbisik, pura, sama kawah, kita juga sempet ke "penanjakan". Dari namanya aja udah ketahuan tempatnya adalah tanjakan.. dan emang iya.. semacam puncak gitu.. dan dari sana, pemandangannnya keliatan indaaaaahhhh banget.. berikut foto yang diambil dari penanjakan,

.
mirip settingnya lord of the ring ya?


saya bukan tukang pijat


yak, segitu dulu deh..
over all,
Bromonya indah gila..apalagi pas pagi hari.. pemandangannya jauh lebih indah dari pada mukaku..
oh ya, yang pengalaman "mandi di tempat parkir terbuka", next time aku tulis di sini..
terima kasih buat yang udah nyasar ke sini..:D

Senin, 06 Juni 2011

dari "aku" jadi "gue"

masih nyambung postingan sebelumnya..
di postingan sebelumnya aku nulis "aku" sebagai "gue", padahal ya, aku sama sekali nggak pernah menggunakan "gue" dalam percakapan sehari-hari. Tapi entah kenapa pas lagi nulis postingan itu aku ngerasa enak aja nulis pake "gue", meskipun kadang aku ngerasa geli sendiri. Takut temen2 bilang "wah gaya koe biasanya ngomong "nyong" aja pake diganti 'gue'! gaya koe! gayaaaa...".. aku pasti malu banget kalo ada yang ngatain gitu. Tapi kog nggak kepikiran ya pas aku nulis postingan sebelumnya itu? hmmm.. bodo ah.. udah terlanjur di post juga, dan aku males untuk ngedit.. hehe.. 
I will keep on writing on this space, entah pake "aku" ataupun "gue"...

Nonton LIVE pilm Romantis

gimanakah perasaan anda ketika anda sedang sendiri, dan di depan anda ada orang lagi pacaran?
ngiler? napsu? napsu pengen ikutan pacaran? ato apa?
kalo gue sih, kalo gue lagi sendiri dan kemudian ada orang pacaran di depan gue, gue pengen banget tereak "kadalbunting lo pacaran nggak tau tempat! ngiming-ngimingi woi?!!!".
Ya, kayak gitulah perasaan gue sekarang. Gue nulis ini lagi di kampus, dan tepat di depan gue sekarang, ada orang lagi pacaran, dua kali lagi, ada orang lagi pacaran, ada orang lagi pacaran .
Aku gambarin situasi gue sekarang, gue lagi di duduk sebuah meja yang cukup gede, maksudnya bukan duduk di meja, tapi dikampus gue tu ada kursi yang nyambung meja gitu, ah, susah juga ngejelasinnya. Kalo di kampus ini namanya bangcok (bangku coklat). Intinya gue lagi duduk2 aja sendiri, lagi nulis ini di laptop, dan TEPAT di depan gue (masih satu meja) ada dua orang (cowok-cewek) lagi pacaran. God, mereka beneran pacaran. Mereka berdua pegang-pegangan tangan, sender2an, elus2an, suap2an (mereka bawa batagor), pokoknya ngelakuin hal yang sebagaimana dilakuin orang lagi pacaran. Padahal, gue lagi di depan mereka. Padahal, kita duduk satu meja. Padahal, gue duluan yang duduk di meja tersebut. Dan mereka mesra2an gitu di depan gue. "KADALBUNTING LO PACARAN NGGAK TAU TEMPAT! NGIMING-NGIMINGI WOI!". Mereka berdua seakan nggak nganggep gue ada. Gue dianggep pohon beringin aja gitu. Kampret.
Sumpah ya, gue geli banget ngeliat mereka mesra2an (baca: kepengen). Kayak nggak ada tempat lain aja.
Gue pengen nanya nama mereka berdua, biar gue tulis di sini. Biar kalo orang tua mereka lagi blogwalking (siapa tau orang tua mereka adalah blogger) dan nggak sengaja nemu blog gue ini terus mereka baca tulisan ini kemudian mereka tau kalo anaknya suka pacaran di kampus, lalu mereka bunuh tu anak mereka masing2. Tapi gue nggak berani nanya, takut dikira homo (ya, emang nggak nyambung)..
Sebenernya nih gue lagi duduk di bangcok ini lagi mau ngerjain tugas makalah linguistik (kedengeran keren ya? padahal gue sama sekali nggak mudeng), tapi gara2 dua manusia kampret yang lagi pacaran di depan gue ini jadi ngebuat gue susah konsentrasi.
Gue udah ada sejam lebih duduk disini, dan 2 manusia kampret itu belum pergi juga. Tobat dah gue. Pengen rasanya gue nge"dalil"in mereka biar insyaf, biar sadar kalo kampus itu bukan tempat orang pacaran. Tapi takut kalo mereka malah bales pake dalil "jika 2 manusia berbeda jenis kelamin berduaan, maka yang ketiga adalah setan". Yah, gue nggak mau dikatain setan, gue kan iblis (LHO?).
Kayaknya emang bener kata pepatah "Cinta itu Buta", persis seperti 2 manusia kampret di depan gue ini. Kayaknya mata mereka lagi dibutain sama Cinta. Sampai nggak ngeliat kalo gue ada di depan mereka....
huft..udahan dulu yaa..gue udah mau muntah nih ngeliat mereka lagi cubit2an pipi..*hoek..(dalem hati: gue kapan bisa kayak gitu? huhu)
yak, semoga mereka cepet tobat dah....amiinnn....

Minggu, 05 Juni 2011

postingan insomnia

belakangan ini aku lagi susah tidur.. ketika aku nulis ini jam menunjuk pukul 3 pagi.. oh, mak, aku insomnia mak..
well.. nulis ketika sepi kayak gini membuat otak gue (kenapa aku jadi ngomong "gue" ya? bodo ah..) jadi lebih nyaman untuk berpikir. Ya, berpikir. Gue ngerasa bisa lebih tajam dalam berpikir. Ketika fungsi telinga gue nggak kepake, otak gue jadi lebih ringan kerjanya. Tapi meski begitu, meski gue udah bisa berpikir lebih tajam dan lebih dalam, gue tetep ngerasa kesulitan untuk mentransfer pikiran itu menjadi tulisan. Susah merangkai kata. Karena begitu banyak yang gue pikirkan saat ini. Terutama tentang tugas kuliah, tugas akhir semester ini.. Sumpah ya, tugas-tugas ini ngebuat gue pengen jedot2in pala ke tembok. Tapi sayang nggak ada tembok yang mau..
lupain tugas sejenak....
Biar blog ini kayak catetan harian beneran, gue mau cerita dikit tentang hari ini. Oh bukan hari ini, tapi kemaren tanggal 4 (gue nulis ini jam 3 pagi, dan hari baru aja 3 jam berganti).
Tanggal 4 Juni ini, GUE RESMI JALAN SETENGAH TAUN sama pacar. Yak, tanggal ini jadi 6th month anniversary  buat kita.. huahahaha... *ketawa bahagia.
Bener2 nggak kerasa. Udah banyak hal yang terjadi antara aku sama dia selama 6 bulan terakhir. You know, ini adalah pacaran gue yang terlama. Dan gue harap sih ini akan lebih lama.. Yah, semoga.
Kata orang kalo seseorang (kog ambigu ya?) lagi seneng pasti akan gampang dapetin inspirasi. Tapi kog gue nggak ya.. Ini gue lagi seneng, tapi rasanya susaaaaahhhhhh banget buat nulis. Padahal banyak hal yang aku pengen ceritain di sini. Mungkin gara-gara saking senengnya kali ya..huhu..
yak, kayaknya sampe sini dulu postingan kali ini...jam udah menunjuk pukul 4 subuh dan aku belum bisa merem juga..
PS: selain bisa membuat orang tersenyum-senyum sendiri, "kebahagiaan" ternyata juga menimbulkan efek susah tidur...

Rabu, 01 Juni 2011

etika menulis (ala fahmi)

assalamu'alaikuummmm..
woah.. rasanya lamaaaaaaa banget nggak nyoret2 blog ini.. kemaren2 cuma bisa co-pas mulu.. huhu..
yak, kali ini aku pengen share buat kamu2 yang suka nulis dan buat semua aja yang lagi baca nih tulisan, tentang etika dalam menulis ala fahmi.. sekali lagi, ALA FAHMI. nggak percuma semua tulisan2ku dibicarain banyak orang.. terutama oleh aa'-aa' burjo..
Walo mungkin tips2 ini ntar kedengeran sesat, tapi nggak papa lah, buat pengalaman2 aja..kali aja kamu juga pernah ngalami apa yang aku alamin berikut ini.
singkat aja, inilah etika menulis yang baik dan benar (baca:sesat) ala fahmi tampan:

1. Pertama, kalo mau nulis, kamu DILARANG sambil ngerjain tugas. Ntah tugas makalah ataupun tugas masalah. Karena ini bisa menyebabkan hilangnya fokus kamu dalam menulis. Kamu dikhawatirkan akan lebih fokus pada tugas2 kamu dan akhirnya kamu lalai menulis cerita yang mau kamu tulis. Dengan logika yang sama, kamu bisa membalikkannya.

2. Kedua, jangan sekali-kali menulis di dekat adek kamu yang masih kecil. Karena ini sangat berbahaya. Cukup fahmi aja yang jadi korban. FYI, dulu pernah ketika aku lagi enak2an tiduran di kamar sambil ngetik, nulis, biasa nulis curcol, udah dapet 3 halaman, tiba2 adekku yang berumur 6 taun ikutan tengkurep di sebelahku, sok2an merhatiin aku nulis gitu. Tapi aku diemin aja. Aku anggap dia hanyalah batu kali, kalo sekali aja dia ngisruh, bakal langsung aku pukul pake palu. Tiba2 lagi, aku dipanggil sama ibuku, terus aku keluar kamar memenuhi panggilan ibunda. Nggak sampe 5 menit aku balik lagi ke kamar. Di kamar, aku udah nggak mendapati adekku, dia udah lenyap entah kemana, tapi nggak begitu aku pikirin. Aku balik lagi ke laptop. Di sinilah aku mendapati ada sesuatu yang salah, tadi aku nulis udah dapet 3 halaman, tapi yang terlihat sekarang hanya 3 kata penuh makna, "MAS AIS JERAWATEN", begitulah bunyinya. Kampret. Kelakuan siapa lagi itu kalo bukan adekku yang keparat itu.. So, kalo kamu suka nulis, kamu punya adek (yang ingusan), dan kamu jerawatan, jangan sekali-kali nulis di sebelah adek kamu. Ingat, kejahatan bisa terjadi di lingkungan terdekat kita. Waspadalah! waspadalah...!!!

3. Jangan nulis sambil tiduran, apalagi kalo keadaan kamu lagi ngantuk. Karena selain dikhawatirkan laptop kamu nggak sengaja dijadiin bantal terus diilerin, ada satu hal lagi yang lebih fatal. Aku bisa ngomong gini karena aku pernah ngalamin. Ya semoga aja ini bisa dijadiin pelajaran buat kamu yang lagi baca tulisan ini. Jadi gini ceritanya, aku pernah nulis sambil tengkurep2an di kasur, saat itu tengah malem, dan aku udah 27 kali menguap tapi aku paksain melek, rasanya lagi pewe banget nulisnya.. sampe nggak kerasa, aku ketiduran... paginya, aku bangun, kucek2 mata, ngumpulin nyawa, dan begitu liat laptop, aku jerit "AAAAAAAAHHH" tapi dengan suara berat khas orang bangun tidur. Aku jerit karena 2 hal: pertama, aku nggak sengaja nidurin laptop dan dengan sukses aku ngilerin dia (tapi dia nggak hamil meski aku tidurin). kedua, pas aku nyalain lagi (pas aku tidurin baterainya habis, gara semaleman nyala terus), ada satu keajaiban, semalem aku nulis cuma dapet 2 halaman, dan setelah aku tiduri, aku dapet 48 halaman, aku gedein lagi 48 halaman, 48 halaman sodara-sodara.. dari 48 halaman itu, mulai halaman 3 sampe 48 cuma tulisan "hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh......".. Aku cuman bisa bengong.. kayaknya pas aku tidurin, bibirku nggak sengaja nyium huruf "h" yang tidak beruntung itu..
***
yah, segini dulu yang bisa aku post.. aku mau bersihin iler dulu nih di keyboard..huhu..