Jumat, 15 Juni 2012

Rumah Hantu #1


Saya termasuk tipe cowok yang takut hantu, karena itu saya sering menjadi bahan ejekan kawan-kawan saya. Saya dikatakan penakut, ‘cemen’, tidak gentle, banci. Padahal, emang iya (lho?).

Seperti yang terjadi beberapa malam lalu, saya diledek habis-habisan ketika menolak ajakan beberapa kawan untuk pergi wisata “rumah hantu”. Rumah hantu yang dimaksud ialah rumah hantu ciptaan manusia yang dibuat untuk kepentingan komersial. Bukan rumah hantu dalam arti senyatanya. Namun, sekalipun saya tahu pasti rumah hantu (dan hantunya) itu buatan manusia, bagi saya tetap saja menyeramkan.

“Kamu gak berani???” seorang kawan perempuan bernama Febri bertanya dengan ekspresi sumpah-lo? “Ih, cowok kok takut hantu. Kagak gentle!”

“Fahmi meragukan cowoknya.” kawan lain bernama Chicha menimpali.

“Jangan-jangan sebenarnya kamu cewek ya, Mi?” Beta, kawan yang juga sedang bergabung tak mau ketinggalan.

Mendapat cemoohan dari lawan jenis seperti itu, jelas saya tidak terima. Ke-cowok-an saya dilecehkan! Saya langsung pasang sikap hendak menurunkan ritsleting celana, lalu bilang “MAU LIHAT BUKTI AKU COWOK?!”

“Makasih, Mi,” Chicha menjawab enteng, “lagi nggak pengin muntah.”

Saya diam tak menanggapi, tapi dalam hati mengumpat: Setan!

***

Malam itu, saya bersama empat kawan saya: Febri, Chicha, Beta, dan satu lagi Lisna a.k.a Boru tengah menikmati jagung bakar di depan GOR UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) ketika Febri mengusulkan wisata “rumah hantu”, dan saya menolaknya (yang kemudian menjadi bahan olok-olokan). Saya menolak dengan alasan yang bagi saya cukup logis: NGGAK BERANI. Namun ternyata alasan itu tidak cukup logis bagi kawan-kawan saya yang notabene berbeda jenis kelamin dengan saya. Mereka mengintimidasi saya untuk ikut.

“Mi, kalau kamu masih mau kita anggap cowok, kamu harus ikut.” kata Febri dengan nada (+muka) menantang.

Tantangan Febri membuat saya panas. Memang, perut saya tidak six-pack dan kaki saya tidak berbulu, tetapi jika sampai ada wanita meremehkan ke-cowok-an saya, ini adalah penodaan gender. PENODAAN!

Akhirnya, saya bilang ke mereka, “Oke, aku ikut!”

Dan tepuk tangan pun bergemuruh (bohong).

Lima belas menit dari tempat makan jagung bakar, kami tiba di “Rumah Hantu” yang berlokasi di daerah Babarsari, Seturan, Yogyakarta. Yang menjadi identitas ke-hantu-an dari rumah hantu tersebut ialah di bagian depan terdapat papan besar bergambar kuntilanak disertai tulisan-tulisan bermotif Chiller (tulisannya apa saya lupa). Juga pagarnya yang total hitam, gelap. Ya, hitam dan kegelapan selalu identik dengan setan.

Dan, yang menjadi penanda komersial dari rumah hantu itu adalah tepat di “teras” berdiri sebuah stan berketerangan “Loket Tiket”.

Ketika baru saja sampai dan memarkir kendaraan persis di samping rumah hantu itu, kami disambut jeritan sangat keras yang berasal dari dalam rumah hantu. Jeritan itu bervokal laki-laki, begitu keras, begitu membahana. Dan sangat jelas merupakan jenis jeritan orang sedang ketakutan.

“WWGHHUUAAAA... WHUAAAAA... WGHHUUAAAA!!!” begitulah suara jeritan yang terdengar. Jeritan itu terdengar tidak hanya satu kali, tapi berkali-kali.

“Itu suara cowok, Feb.” saya langsung memasang tampang cemas.

“Iya, gila. Cowok aja sampai jerit gitu.” tanggapan Febri membuat saya semakin horor.

Mampus.

Kami berlima saling bertukar pandang dalam hening. Saya artikan ini sebagai situasi saling lempar pertanyaan batin ‘Gimana? Mau lanjut?’

Tiba-tiba terdengar celetukan, “Kalau nggak berani mending gak usah masuk.”

Kami celingukan mencari asal suara itu. Ternyata, itu mas-mas tukang parkir. Mungkin, dia menangkap gelagat ketakutan kami.

Saya bertanya kepadanya, “Emang serem banget, Mas?”

“Banget," Masnya berkata mantap, "soalnya di dalam situ ada hantu yang asli.”

“Serius, Mas??”

“Tenanan, Mas, aku ra ngapusi (terjemah: beneran, kakak, saya tidak bohong).” Si Mas-mas tukang parkir lebih terkesan menakut-nakuti daripada memberi informasi. “Nanti kalau Mas masuk, terus ketemu hantu yang nakut-nakutin, itu hantu palsu. Tapi kalau Mas ketemu hantu yang diem aja, itu hantu asli.”

Ada hantu asli... mampus kuadrat.

“Tuh, ada setan asli. Ayok lah kita balik aja.” saya mencoba menularkan ketakutan saya ke kawan-kawan agar mereka membatalkan niat untuk masuk ke rumah hantu.

“Aduh, Mi,” sahut Febri, “nanggung banget kita sudah sampai sini masak yah mau balik lagi. Ayok lah lanjut!”

“Iya, rugi banget kalau harus balik lagi.” Si Boru yang dari tadi diam angkat bicara.

Kami berembug sesaat. Kemudian, sebagai pertimbangan, kami memutuskan menemui pengunjung yang sudah masuk ke dalam. Kami ingin melihat bagaimana kondisi, reaksi, dan ekspresi orang-orang yang sudah memasuki ‘kediaman’ para hantu itu.

Di rumah hantu itu hanya terdapat dua pintu: pintu masuk dan pintu keluar. Di pintu masuk terlihat antrean cukup panjang dari pengunjung yang hendak masuk. Sedangkan di pintu keluar, terlihat setiap beberapa detik, empat sampai lima orang keluar dengan muka memerah, keringetan, ngos-ngosan, berjalan terseok-seok, tetapi tertawa-tawa. Semua yang keluar pasti tertawa-tawa.

“Mereka hepi-hepi aja itu.” Beta berkomentar.

Saya terheran-heran. Apa yang mereka tertawakan?

Penasaran, kami ‘mewawancarai’ salah seorang pengunjung laki-laki yang baru saja keluar. Sambil tertawa dan ngos-ngosan si pengunjung ini bilang, “Gak menakutkan. Biasa saja. Cuma panas, sama pengap di dalem.”

Masih sambil mengatur napas, si pengunjung ini melanjutkan, “Ini aku malah sempat foto sama pocongnya. Sebenarnya sih gak boleh, foto-foto di dalam, tapi aku nekat aja.”

Dia lalu memamerkan fotonya berpose bersama pocong.

Pocong itu berwajah putih pucat dengan bagian sekitar mata berwarna hitam sehingga membuatnya terkesan melotot, dan dari matanya mengalir air mata darah. Di mulutnya terdapat bercak-bercak darah seperti habis makan orang. Yang aneh, ekspresi wajahnya datar sedatar-datarnya.

“Pocongnya unyu,” ujar si pengunjung.

“Oh iya.” saya menanggapi sekenanya (dalam hati: UNYU? EMANGNYA AFIKA??? INI SEREM, MONYET!!).

“Iya, unyu. Pocongnya ini diem aja sih.” lanjut si pengunjung.

“Hah??” saya tercengang (dalam hati: ITU SETAN ASLI!!!).

Saya pasti bakal menjerit histeris jika bertemu pocong ini.

Kami berlima berembug kembali. Febri dan Boru malah semakin penasaran untuk masuk. Chicha dan Beta yang awalnya bersemangat mendadak loyo (terutama setelah mendengar jeritan tadi), tetapi masih penasaran untuk masuk. Sementara saya, saya paling bernafsu untuk kembali pulang. Namun, apalah daya golongan minoritas. Saya yang tak memiliki mitra siapa-siapa ini, harus mengikuti kemauan golongan mayoritas: masuk ke rumah hantu.

Tiket pun dibeli. Ini berarti, saya wajib menyiapkan pita suara se-fit mungkin agar bisa menjerit sekencang-kencangnya. Dan, saya baru sadar. Suara saya termasuk kategori ‘cempreng’ level parah. Kalaupun saya menjerit, suara yang keluar pasti lebih seperti jeritan remaja putri menonton konser Suju.

“Mi, nanti kamu depan ya?!” Febri memberi instruksi. Dia lalu menjelaskan bahwa rumah hantu itu dalamnya berbentuk lorong sempit yang hanya bisa dilalui satu orang. Karena itu, pengunjung yang hendak masuk harus dibagi ke dalam suatu rombongan. Per-rombongan maksimal terdiri atas lima orang. Lima orang tersebut harus berjalan berurutan dari depan ke belakang. Jadi, kami berlima akan berjalan beriringan ibarat rangkaian gerbong kereta api. Untuk kasus kami: ibarat gerbong kereta api ekonomi peninggalan Belanda, lebih tepatnya.

Sekali lagi, minoritas (cowok sendiri) harus mengalah, dan saya pun menjadi gerbong paling depan.

Kami mengantre di depan pintu masuk. Perjalanan yang mendebarkan akan segera dimulai.

Di sini, saya bingung mempersiapkan reaksi ketakutan seperti apa yang pantas saya ekspresikan. Apakah saya harus menjerit selepas-lepasnya? Atau menahan jerit agar terlihat elegan? Hal ini menjadi penting saya pikirkan karena ini menyangkut harga diri saya sebagai laki-laki di mata perempuan. Walaupun, saya sadar betul sedari awal saya sudah tidak punya harga diri di mata kawan-kawan saya ini. Tetapi, posisi sebagai lelaki satu-satunya menuntut saya untuk selalu tampil paling berani dalam situasi apapun.

Mampukah saya melakukannya?

Tunggu postingan selanjutnya...

Selasa, 22 Mei 2012

BANGKIT DARI KUBUR

Whoaahhh... saya berasa baru bangkit dari kubur... lama sekali blog ini gak di-update.

Kasihan sekali blog ini. Gak keurus, gak diperhatiin, gak dikasi makan, gak dinafkahin. Aduh, udah kayak istrinya bang toyib aja ini blog... jarang dibelai. Maaf yah, blog. Maafkan majikanmu ini. *pelukan (sama laptop).

Mohon maaf sedalam-dalamnya juga untuk (segelintir) teman-teman yang udah sering (kesasar) mengunjungi blog ini, dan menunggu-nunggu kapan blog ini dibakar di-update. Terima kasih sudah menunggu, dan sekali lagi mohon maaf. *pelukan (sama laptop. Lagi).

Okeh, sudah cukup kangen-kangenannya. Sekarang, kita masuk ke pembicaraan inti, yaitu.......... curcol.

Mehehe.

Ide dasar pembuatan blog ini emang sebagai tempat curhat. Jadi, harap maklum ya kalau tulisan-tulisan di sini sangat depresif (dan agak kebencongan-bencongan) :D

Terima kasih.

***

Ehem,

Yang jadi kambing hitam kenapa blog ini gak keurus adalah TUGAS-TUGAS KULIAH. Atau lebih tepatnya: TUGAS-TUGAS KULIAH YANG ADUHAI BANYAK SEKALI.

Betul sodara-sodara, menginjak semester IV ini saya mulai kerap dihajar, disiksa, dianiaya, sampai dikebiri, oleh tugas-tugas dari bapak dan ibu dosen. Setiap hari kerjaan saya hanya duduk-ngadep-laptop-ngerjain-tugas, duduk-ngadep-laptop-ngerjain-tugas. Sampai-sampai saya lupa caranya berdiri. Hohoho. Tetapi yang aneh, saya justru menikmatinya. Nah lho?

Meskipun sering kali saya mengeluh dan mengeluh tentang tugas yang dikasih dosen, tapi tetap saja saya mengerjakan tugas itu (walau dengan perasaan berat). Yeah, ini demi target IP 3,5 biar bisa mengangkat IPK yang melorot (sampai telanjang) di semester kemarin. Di semester IV ini, hampir tiap minggu ada tugas bikin makalah, revisi makalah, sampai “mencari masalah”. Banyak deh. Disebutin semuanya juga saya yakin kamu yang baca ini gak mudeng, ya kan? Yang mudeng hanya anak-anak Sastra Indonesia UGM angkatan 2010. Hehe.

Oh ya, ngomong-ngomong, buat kamu yang baru (nyasar) ke sini dan belum kenal dengan saya, perkenalkan nama saya Fahmi dan saya cowok. Cowok normal, tepatnya. Saya mahasiswa SastraIndonesia UGM, dan baru semester 4 pas nulis ini. Jangan tanya kuliahnya tentang apa. Pokoknya jangan. Di kampus, saya termasuk mahasiswa yang sangat sangat tidak terkenal. Coba saja kamu main ke kampus FIB UGM, kemudian nanya orang lewat, “Mas, kenal Fahmi gak?”

Pasti orang itu bakal ngejawab, “Ooh, Fahmi yang gak terkenal itu ya?”

Oke, kembali ke leptop.

Jadi karena kebanyakan ngerjain tugas itulah akhirnya saya tidak bisa membagi perhatian sama blog ini. Bahkan, pacar saya pun sampai terpaksa saya telantarkan. Karena saya emang gak punya pacar. Mehehe. (dalam hati: Oh Tuhan, kenapa saya jomblo terus? Kenapa, hah? Kenapa?)

Ehm, maaf, kalo ngomong pacar saya suka kelepasan.

Sampai mana tadi? Tugas, ya? Yak, jadi intinya fokus perhatian saya belakangan ini adalah TUGAS KULIAH. Dalam skala prioritasku saat ini, “Tugas Kuliah” menempati posisi kedua, tepat di bawah “Mencerdaskan Anak Bangsa”.

Saya nulis postingan ini sesungguhnya juga merupakan “murtad” dari ngerjain tugas. Harusnya saya lebih meluangkan waktu untuk ngerjain tugas daripada nulis gak jelas kayak gini. Tapi, kenapa saya tetep nulis ya?

Ya, itulah misteri Ilahi.

Misteri lainnya adalah kenapa nilai-nilai kuliah saya selalu berantakan, amburadul, gembel, lusuh, compang-camping gak karuan. Mirip sama muka saya. Padahal, saya sudah merasa cukup serius dalam belajar. Saya juga sudah berusaha cukup maksimal. Tetapi nilai saya tetap jelek (kayak muka saya). Itu merupakan misteri yang belum bisa saya pecahkan sampai saat ini.

Kecuali masalah kebanyakan tugas, hidup saya selebihnya berjalan normal-normal saja. Saya masih makan nasi, masih suka nonton tivi, dan masih pipis jongkok. Biasa saja.

Well,
Begitulah sodara-sodara... baru ini yang bisa saya sampaikan pada kesempatan kali ini. (habis mencet "post" langsung lanjut ngerjain tugas... hoho)

Sampai ketemu di postingan selanjutnya.. :) *cipika-cipiki (sama laptop)

Minggu, 01 April 2012

Crazy Things


Kreatif dengan Gila adalah dua hal yang beda tipis...


Aku inget di SMA-ku dulu, ada kejadian seorang siswa diseret-seret secara paksa ke tengah lapangan basket oleh beberapa siswa lain. Siswa yang diseret meronta-ronta sekuat tenaga berusaha melepas cengkeraman siswa lain yang menyeretnya. Maling helm, aku menebak.

Kemudian, siswa yang diseret-seret itu “disiksa” rame-rame. Dia diguyur air secara brutal, kepalanya dikeprokin pake telor mentah, badannya ditaburin tepung. Setelah itu, siswa-siswa yang tadi menyeret-nyeret dan menyiksa bernyanyi Happy Birthday To You...

Maling helm lagi ulang tahun.

Melihat kejadian itu, aku mencibir dalam hati, ”Gila, norak amat! Ulang tahun aja pake acara gituan!”

Keesokan harinya, aku menyeret-nyeret seorang temen yang ulang tahun ke lapangan basket. Aku guyur dia pake air, aku keprok kepalanya pake telor, dan badannya aku taburin tepung.

Ternyata, seru juga “menyiksa” temen yang lagi ulang tahun.

Saking serunya, kita-kita yang “menyiksa” jadi sering lupa esensi penyiksaan itu sendiri: untuk memperingati hari lahir. Taunya rame-rame, heboh-heboh, terus seneng-seneng. Dalam kebanyakan kasus, yang disiksa malah lebih seneng.

Aku juga masih inget dulu di SMA, ada temen sekelas ulang tahun, lalu temen-temen lain, termasuk aku, berinisiatif “merayakan” hari jadi tersebut dengan ngebikin bom air. Itu lho, plastik sekiloan diisi air terus diiket ujungnya. Nah, kalo airnya air keran biasa mah gak masalah. Nha waktu itu beberapa plastik diisi..... ehm, air seni. Serius, benar-benar air seni, air pipis. Aku masih ingat betul kejadian itu karena dulu aku ikut nyumbang pipisnya. Mehehe..

Pas pulang sekolah, temenku yang ulang tahun itu dicegat di gerbang, lalu tanpa ampun dilempar jumroh. Bukan pake batu, tapi pake bom air yang sudah disiapkan tadi, yang beberapa diantaranya berisi air pipis. Si temen yang ulang tahun jelas kalang kabut. Dia berlarian menghindari serangan bom air (+pipis) kami, tetapi percuma. Pada akhirnya, teman yang ulang tahun itu pulang dengan baju dan celana basah kuyup sambil menggerundel “Kayaknya aku gak sengaja kencing di celana, deh.... bau pesing.”

Oke, aku tahu itu sangatlah tidak beradab dan sangat tidak bermoral. Tapi, yah, masa SMA adalah masa di mana aku (atau kami) belum mendapat pencerahan. Masa sebelum Renaisans. Belakangan aku sadar ternyata sampai sekarang pun aku masih belum mendapat pencerahan, kulitku saja masih gelap.

Selepas lulus SMA, dan sekarang jalan semester empat kuliah, aku nggak pernah lagi melakukan “penyiksaan” ulang tahun tersebut. Kebiasaan brutal itu perlahan mulai aku tinggalkan karena merasa itu terlalu childish. Setidaknya, sampai bulan Maret 2012 ini.

***

Aku kembali merindukan “penyiksaan” itu saat salah seorang teman dekatku di kampus, Shera, ulang tahun. Sehari sebelum ulang tahunnya Shera tiba, aku sudah merencanakan ritual “penyiksaan” tersebut di rumah Adis, teman dekat yang lain.

“Pokoknya, besok Shera harus disiksa, Dis.” kataku, memprovokasi Adis.

“Siksa gimana? Siram pake air?”

“Kalo pake air doang mah udah biasa, gak asik, kurang seru.” Aku lalu ingat masa SMA. “Dulu pas SMA aku pernah nyiram temen yang ulang tahun pake air pipis. Seru lho!”

“IDIH!!!” Adis tersentak dengan ekspresi muka jijik, seolah membayangkan bagaimana caranya aku dan temen-temen SMA-ku dulu mengumpulkan air pipis untuk nyiram orang. “NAJIS BANGET!!”

“Iya, emang. Air kencing kan emang najis.”

“Bukan itu maksudku, dodol. GAK MUNGKIN ya kita nyiram temen sendiri pake pipis.”

“Iya, sih.” aku mengangguk. "Aku juga lagi gak kebelet pipis, kog."

"Aku gak peduli sama pipismu," ucap Adis tak acuh. “Oke, terus enaknya siram pake apa?”

Aku berpikir sejenak, lalu menemukan ide brilian. Dengan suara meledak aku bilang ke Adis “AHA! PAKE AIR AKI!!”

Aku diusir ke luar.

Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya kami menemukan “ramuan” yang tepat untuk “merayakan” ulang tahun teman kami. Ramuan yang sangat cucok untuk diguyurkan ke orang yang ulang tahun. Aman, tidak berbahaya, dan tidak bau pesing. Dan yang pasti ramuan itu bukanlah kombinasi air seni dan air aki.

Ramuan itu kami beri nama.......... “TAI MOLTO”.

Eits, jangan salah sangka dulu, ramuan itu tidak seseram namanya. TAI MOLTO memiliki arti:

-         T = Telur
-         A = Air
-         I = Indomilk
-         MOLTO = pewangi pakaian, yang harganya gopek’an, dan bintang iklannya “Andi Molto”.

Jadi, TAI MOLTO adalah singkatan dari Telur, Air, Indomilk, dan Molto. Keempat bahan itu dicampur menjadi satu dalam satu botol dan seketika menjadi ramuan yang menakjubkan.

Ya, saya memang jenius (dan sangat tidak kreatif dalam pemberian nama).

Campuran telur, air, indomilk, dan molto, memberikan aroma yang sangat khas. Ada semerbak wangi dari molto, amis dari telur, dan tentunya, ada kesegaran alami dari indomilk.

Berikut penampakan TAI MOLTO:
Niatnya mau dikasih gambar tengkorak, tapi malah kayak gurita berkelamin ganda
Aku gak tahu reaksi apa yang akan terjadi jika semua campuran itu tumplek di rambut orang. Mungkin, rambut orang itu akan berevolusi jadi Medusa. Atau mungkin lebih parah lagi, rambut orang itu akan berevolusi jadi Anggun C Tsasmi, terus jadi bintang iklan Pantene.


Keesokan paginya, bersama dua orang teman lain, Adis dan Devita, kami menyatroni rumah Shera. Tentu saja kami ke sana tanpa sepengetahuan empunya rumah. Tujuan kami adalah ngasih Surprise  (+siksaan), dan berikut rencana kami : mengetuk pintu rumah, si Shera keluar, kita bekap dia dari belakang, kita seret dia ke lapangan basket, kita keprokin palanya pake telor, terus kita siram dia pake ramuan yang telah disiapkan. Pasti seru abis.

Namun, rencana itu kami urungkan karena lapangan basket yang paling dekat dengan rumahnya Shera berjarak 5 kilometer. Nggak mungkin kan kita menyeret-nyeret anak orang sejauh itu?

Akhirnya, operasi ala kadarnya pun dimulai.

Si Adis ngetuk pintu rumahnya Shera. Lima detik, gak ada jawaban.

“Ketuk lagi, Dis!” aku memberi instruksi.

Adis mengetuk lagi. Tetep gak ada jawaban. Adis mengetuk untuk ketiga kalinya. Dan tetep tidak ada jawaban.

“Coba sekali lagi,” aku terus memberi dorongan. “Kalo masih gak ada jawaban, kita robohkan saja pintunya!”

“Mi,” Devita angkat bicara, “kita mau ngasih Surprise, bukan mau nangkap teroris.”

Aku ngebayangin, aku mendobrak pintu rumah Shera, dan setelah pintunya berhasil roboh, aku akan menerabas masuk sambil bawa-bawa botol ramuan TAI MOLTO sebagai alat pengintimidasi pengganti pistol, kemudian aku akan berteriak kencang “MENYERAHLAH KAU, KEPARAT!! KAU SUDAH DIKEPUNG!!”

Oke, aku ngelantur.

Sementara Adis terus mengetuk pintu, aku menyiapkan amunisi: sebutir telur mentah di tangan kanan, dan sebotol besar ramuan TAI MOLTO di tangan kiri.

Setelah beberapa ketukan dan menunggu beberapa menit, akhirnya Shera keluar juga. Begitu melihat kami bertiga, Shera terlihat agak kaget. Shock Therapy kami berhasil. Kemudian, Shera lebih kaget lagi ketika tiba-tiba Adis menarik lengannya.

“Eh apa-apaan ini?!” protes Shera. Jelas, dia tidak siap menerima serangan mendadak yang dilancarkan Adis. Refleks, dia berusaha melepas cengkeraman Adis.

“Cepetan, Mi!” Adis menginstruksikan.

Aku langsung mengerti perintah Adis. Tanpa membuang waktu dan tanpa membuang celana (NGAPAIN BUANG CELANA??), dengan satu gerakan cepat aku “membuang” sebutir telur tepat di kepala Shera.

Tumbukan antara batok kepala dengan sebutir telur mentah menghasilkan bunyi yang syahdu sekali.

PROKKK!! Telurnya pecah, dilanjutkan erangan “AAAARRGGGHH... APA-APAAN INII??!!”

“Aernya, Mi! Cepetan! Aernya!!” suara Adis terdengar tak sabar. Tampaknya Adis terlalu berlebihan melakoni perannya megangin Shera. Sampai-sampai dia lebih terlihat seperti sedang megangin sapi kurban hendak disembelih.

Kembali, tanpa buang waktu dan buang celana (tetep), aku siramkan ramuan TAI MOLTO ke kepalanya Shera.

Sejujurnya, aku sangat pengin menikmati setiap detik pengucuran ramuan itu, biar berasa kayak lagi siraman tujuh bulanan. Sayangnya, Shera terlampau liar. Dia benar-benar seperti sapi kurban hendak disembelih. Berontak ke mana-mana.

Karena Shera gerak-gerak terus, aku gak bisa membidik dia dengan akurat. Akhirnya, aku menggunakan jurus kepepet: membabi buta. Dengan satu gerakan singkat aku siramkan ramuan TAI MOLTO itu ke arah Shera yang berjarak satu meter denganku. Alhasil, ramuan itu pun habis dalam satu siraman dan tidak semuanya kena ke badan Shera. Sangat disayangkan.

Shera sempat menghindar, tetapi rambutnya tetap kena. Sedikit beruntung dia, tidak semua ramuan TAI MOLTO tumpah di kepalanya. Cukup banyak ramuannya yang terbuang sia-sia ke lantai.

Meskipun begitu, aku sudah cukup puas. Aku bisa melihat kepala Shera dipenuhi lendir putih telur. Rambutnya juga jadi wangi molto. Efek sampingnya kayak apa, aku gak tau. Bisa jadi seminggu kemudian Shera jadi botak, atau malah rambutnya jadi panjang terus nyambung sama bulu pantat.

Setelah pergumulan memalukan itu selesai, kita bersih-bersih. Ketika hendak membuang botol yang tadi dijadikan tempat ramuan TAI MOLTO, tiba-tiba saja aku mendengar bisikan jahat. Di botol itu masih tersisa lendir-lendir putih telur.Aku melihat Shera sedang ngobrol sama Adis.

Botol ini harus habis, pikirku dengan botol di genggaman. Aku pun bergerak mendekati mereka berdua. Dan ketika mereka sudah berada dalam jangkauan tangan, tanpa basa-basi aku tumpahkan sisa-sisa lendir itu ke........., KEPALANYA ADIS.

Jelas, Adis langsung misuh-misuh “AAARRGGH!! SIALAN, FAHMI!! INI KOTOR, BEGO! INI KOTOR! AKU UDAH MANDI, SIALANNN!!”

“KYAHAHAHAHAAHA...” aku ngakak.

Shera ngakak.

Devita ngakak.

Anang Hermansyah juga ngakak.

Hanya Adis yang nggerundel.

Tetapi, semuanya sama... sama-sama bahagia.
Oh, kecuali Anang Hermansyah, dia lagi stres milihin Indonesian Idol.

Oh ya, ini dia foto si korban ulang tahun:

Silakan tebak mana Devita? mana Shera? mana Adis? dan MANA ANANG HERMANSYAH?

***

PS : Di bulan Maret kemarin cukup banyak temenku yang ulang tahun, dan cerita tentang ulang tahun di bulan Maret tidak hanya satu ini.. :)

Senin, 20 Februari 2012

Sepedamania 2 (Dikejar-kejar Gukguk)


Pernahkah kamu tengah malem dikejar-kejar anjing? Kalo pernah, gimana perasaannya? Pasti ANJING banget kan?

Nah, midweek kemarin aku ngalamin kejadian itu, tengah malem dikejar-kejar anjing. I mean it.

***

Rabu (15/2) tengah malem, aku dan beberapa temen bersepeda keliling Jogja. Ya, belakangan ini aku emang lagi doyan banget sama yang namanya maen sepeda tengah malem. Menikmati Jogja dini hari. Enak aja rasanya ngeliat jalanan yang biasanya rame mobil sama motor jadi sepiiiiiii banget. Aku paling seneng ngeliat jalanan kota yang sepi. Karena jalanan jadi berasa milik nenek kita. Kita bisa bebas guling-gulingan di tengah jalan tanpa takut kelindes Transjogja (karena gak ada Transjogja lewat jam 12 malem). Dan ya, ngeliat jalanan yang sepi gitu, aku langsung aja tiduran sambil guling-gulingan di tengah jalan. Serius. Asik loh.

Bukan, saya bukan korban perkosaan angkot

Posisi favoritku: tidur terlentang di tengah jalan terus ngeliat bulan di langit.

Sok mikir, sok sweet, sok imah

Biasanya kalo udah gitu, temen-temen bakalan pada mencemooh. Ada yang ngatain norak lah, katrok lah, gila lah, bahkan ada yang bilang “Astaghfirullah”. Dan seperti biasa juga, aku gak peduli. Mehehe.

Oke, balik ke cerita..

Kemarin itu aku sepedahan bersama 5 temen bernama Dedi, Imam, Dian, Affan, dan Da’im. Malam itu kita sepedahan dengan Bandara Adi Sutjipto sebagai tujuan akhirnya. Biasanya paling cuman ke alun-alun selatan.

Sewaktu mulai masuk ke area bandara Adi Sutjipto, posisiku berada di urutan kedua dari belakang. Di depan ada Dedi, Imam, Affan, dan Da’im. Sementara Dian di belakangku. Jarak antara aku dengan keempat pembalap di depan cukup jauh. Ada kali 30 meter. Dian di belakangku juga cukup jauh.

Masuk ke Bandara sepertinya akan mudah dan menyenangkan.

Yah, sepertinya.

Tanpa ada firasat apapun, tiba-tiba dari depan terdengar lolongan “gukguk” yang sangat horor. Model suara anjing penjaga malem ngeliat penjahat. Seketika itu pula keempat temen di depanku memutar balik sepeda mereka, lalu berceceran menuju ke arahku. Di belakang mereka terlihat dua gumpalan bulu berwarna coklat dan putih bergerak cepat dan liar seperti mengejar keempat temenku itu. Oh, bukan ‘seperti’, tapi dua gumpalan bulu itu ‘memang’ mengejar temen-temenku.

Lolongan gukguk-nya kenceng banget.

Aku berhenti mengayuh sepeda.

Hanya sekejap saja keempat temenku itu sudah mendekat ke tempatku berhenti. Semuanya memasang tampang panik. Imam, yang berada paling depan di antara empat orang itu, dengan muka yang sangat panik berteriak ke arahku “ANJING!! AWAS, ANJING!!!”

Aku bengong.

Aku gak ngerti apakah Imam sedang MENGINFORMASIKAN bahwa ada “anjing” lalu menyuruhku untuk “awas”, atau dia sedang MENGGERTAK supaya aku tidak menghalangi jalannya. Aku gak ngerti. Tapi yang pasti saat itu pula aku ikutan muter balik, lalu ikutan memasang tampang panik.

Baru aja aku sempurna memutar sepeda, si Imam yang paling kenceng (dan paling panik) mendahuluiku sambil terus teriak “ANJING AWAS ANJING!!!”

Suara gukguk-nya semakin terasa dekat.

Aku langsung teringat teori tentang cara selamat menghindari serangan binatang buas, yaitu: “Kamu tidak perlu berlari lebih cepat dari binatang itu, kamu hanya perlu berlari lebih cepat dari teman kamu.”

Dan Imam baru saja mempraktekan teori itu.

Ini berarti: MAMPUS GUE!

Sekilas aku noleh ke belakang, Dedi dan Da’im berhasil menghindari kejaran si gukguk dengan nyungsep ke trotoar. Affan yang berada di tengah jalan masih dikejar-kejar satu anjing. Anjing yang satunya, berlari ke arahku.

“AAAAAAAAAAAAARRRGGGHHHH!!!!” aku jerit, lalu menggenjot pedal sepeda sekenceng mungkin. Secepat mungkin.

Apa daya, mengingat kekuatan fisikku yang sangat lemah, aku gak yakin bisa selamat dari kejaran anjing ini. Sempet kepikiran untuk berhenti saja, menjelaskan bahwa aku bukanlah maling lalu nyerahin sepeda sebagai jaminan. Pulang jalan kaki gak papa deh, asal gak digigit. Namun, aku sangat sadar bahwa anjing bukanlah makhluk yang bisa diajak kompromi. Lagian, NGAPAIN JUGA NGASIH SEPEDA KE ANJING???

Raungan si anjing semakin menjadi-jadi.

Oh Tuhan, tolong hentikan anjing ini.

Aku gak mau mati digigit anjing. Aku gak mau mati digigit anjing. Aku gak mau repot mandi pake pasir.

Mantra itu menjadi semacam Extra Joss yang membuatku cukup kuat dan kencang mengayuh sepeda.

Setelah kejar-kejaran sampai sekitar 100an meter, akhirnya dua anjing kunyuk itu berhenti mengejar.

Kami menang.

Kami semua ngos-ngosan.

Aku nangis bahagia.

“Hhh.., hhh.. hhhh..” hanya suara napas tersengal-sengal yang keluar dari mulut kita ber-enam untuk beberapa saat.

“Kampret itu anjing.” kata si Imam kesal. Saking keselnya dia sampe lupa bahwa kampret dengan anjing itu dua spesies yang berbeda.

“H-iyo, h-asu tenan.” aku nambahin masih sambil ngos-ngosan.

Aku baru tau kemarin itu kalo di bandara ternyata suka dijaga anjing kalo malem. Eh, gak tau juga sih apakah itu emang anjing penjaga atau cuman anjing iseng. Atau, apa karena muka kami yang kriminal sehingga menarik nafsu anjing-anjing itu buat ngejar? Gak tau juga. Yang jelas anjing itu hampir membuat jantungku copot.

Setelah suasana mulai kondusif, jantung kembali berdetak normal, kita semua lalu...., tertawa rame-rame. Kita menertawakan kebodohan kita masing-masing.

“Kita kayak maling, sumpah.”

***

Sebelum pulang, kita sempet foto-foto di depan jalan masuk bandara. Tapi hanya foto pake hape, jadi hasilnya jelek (orangnya juga jelek). Tapi gak papa, ini aku mau pamer foto (jelek) kami:

TKP

Bergaya setelah dikejar anjing

Dari kiri ke kanan : Affan, Imam, Fahmi, dan penampakan

Biasanya, setelah capek sepedahan, kita kongkow-kongkow bentar di angkringan atau warung burjo 24 jam, atau sesekali ke Mekdi. Pada ngobrol-ngobrol yang NGGAK berkualitas. Tapi seru. Paling pewe kalo di warung pinggir jalan, gelar tiker di trotoar, lanjut tiduran. Asik loh. :D

Kadang aku juga suka bawa-bawa netbook, biar kalo ada kejadian menarik (atau horor) bisa langsung aku tulis kayak gini. :D

Padahal lagi gak pake celana



Oke, segitu dulu. Sampai ketemu di postingan selanjutnya.. :)

Sabtu, 04 Februari 2012

The Power of Blog*


Pagi ini aku bangun seperti biasa... Bangun jam 6, dan aku merasa ini masih subuh, terus aku sholat.

Setelah subuhan, dengan bau jigong masih di mana-mana, aku blogwalking ke blog langgananku (Naked-traveler.com, radityadika.com)

Ketika aku membuka naked-traveler, di situ ada postingan terbaru yang ngebahas dunia “blog”. Judulnya The Power of Blog*. Judul yang kemudian aku jiplak untuk kujadikan judul postingan ini. Postingan yang inspiratif itu bisa dilihat di sini.

Membaca postingan itu membuat aku semakin semangat untuk terus ngeblog di blog ini. Naked-traveler menurutku adalah salah satu blog yang keren, sangat berhasil, sukses, sampai dibukuin segala. Dan well, ketika kita melihat sesuatu yang telah sukses di depan kita, itu membuat kita semakin terinspirasi untuk mengikuti jejak keberhasilannya, dengan jalan yang sama.

Namun di sisi lain, postingan The Power of Blog* itu sekaligus juga membuat aku down. Down dalam artian “minder”. Minder karena ketika aku melihat blog sendiri, mencoba berkaca, aku bisa melihat diriku yang masih sangat keciiiiiiiiiiillllllll sekali. Dalam dunia blog.

Selalu seperti itu.

Berada di antara dua arus yang berlawanan. Semangat dan Minder.

Setelah itu aku aku juga iseng-iseng buka blog orang, dan yang tidak beruntung (atau malah beruntung?) aku isengin adalah blog kangenkasur.wordpress.com.

Aku buka blog itu juga dari Naked-traveler. Membaca blog kangenkasur itu, aku kembali minder. Blog itu keren menurutku. Isinya pake bahasa Inggris pula.

Blog lain yang aku isengin adalah rifkiamelia.multiply.com. Itu blog punyanya atasanku di SKM Bulaksumur. SKM Bulaksumur adalah badan pers mahasiswa di UGM. Aku dulu ikut itu, jadi reporter. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Aku non-aktif secara tidak terhormat. Hehe. Sudah lah, nggak perlu menyinggung itu.

Balik lagi ke rifkiamelia.multiply.com, membaca blog itu aku juga kembali minder. Tulisan di blog itu rapih, terstruktur, enak dibaca. Nggak kayak blog’ku ini yang awut-awutan. Tuh kan, minder lagi.

Hmm.. sampai di sini, aku malah bingung.

Kenapa aku minder ya?

Geblek.

Yah, inilah bodohnya saya. Sering aku nggak ngerti alasan kenapa aku begini, kenapa aku begitu. Kenapa aku melakukan ini, kenapa aku melakukan itu. Untuk apa? Oh, I can’t explain to myself why I so stupid.

So, what should I do with this my stupidness?

Well, I don’t know.

Eh, kog pagi-pagi malah galau gini? Aduh, soridorimori... Mandi dulu ah.